Tampilkan postingan dengan label live life. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label live life. Tampilkan semua postingan

Rabu, 08 Agustus 2012

Para Tuan Muda ini

Belum subuh,

Aku behenti sebentar dari pekerjaanku mengedit tulisan yang masuk untuk scrapbook MyMemz. Ya, berhenti sebentar untuk menulis ini. 

Membaca tulisan-tulisan sahabatku, aku sangat tertusuk. Yang dia tuliskan adalah kisah anak pemulung, kisah guru miskin dengan vespa tuanya, dan yahh...hal semacam itu. Sepertinya cocok untuk mengisi acara “Jika Aku Menjadi...”. Aku tersentuh? Iya. Lebih tersentuh lagi karena aku tahu si penulisnya adalah anak orang kaya yang punya pom bensin bertebaran dimana-mana. Tuan Muda. Yah....setipe sekali dengan Husky yang anak seorang pengacara dan notaris itu. 

Aku selalu suka tipe tuan muda yang sok proletar seperti mereka. Tambahan satu lagi, seorang teman baru dari Bali. Anak seorang exportir, menjadi seorang penyuluh di Kementrian Perindustrian dan usianya 22 tahun. Mereka bertiga satu tipe. Sama-sama Tuan Muda yang terlahir di keluarga kelas menengah ke atas. Yang satu, memilih menekuni biola, beraktivitas di LSM bentukan alumnus relawan merapi. Yang satunya lagi membangun LSM di bidang kewirausahaan dan berniat membangun perekonomian rakyat yang mandiri terbebas dari kapitalis asing. Dan Husky? Nggak usah kuceritakan, sudah terlalu banyak penjelasan tentang dia.

Lucu, ketika mereka ngotot tetap memakai motor butut mereka. Lucu, ketika mereka berkeras nggak mau ganti HP yang lebih canggih. Lucu, ketika melihat mereka bercakap dengan penjual angkringan atau berkumpul di tengah-tengah proletar. Ah...kalau orang nggak tahu background ketiganya, mungkin orang akan bilang biasa saja. Tapi karena aku tahu aslinya mereka tuan muda, aku menganggapnya manis. Ya, manis.

Dan semoga semakin banyak lagi orang manis bertebaran di bumi Endonesia ini. Amin.

Ps : Husky pernah bilang, ‘idealisme muncul ketika kita merasa cukup’. Oke, aku mengerti sekarang.

Senin, 06 Agustus 2012

NO FEAR

Seperti judul lagu? Iya, lagu lawas. Dinyayiin sama band The Rasmus yang booming saat aku masih ingusan dan malas mandi.

Beberapa malam yang lalu, saat santap sahur di rumah, seperti biasa, Ayah mengadakan konferensi meja makan. Adik lelakiku yang baru saja lulus kuliah dan sedang galau karier, mulai curhat. Aku, yang merasa senior ikut-ikutan curhat tentang kondisi di kantor dan konfrontasiku dengan Si Bos. Aku ungkapkan sedetail-detailnya. Oke, begini respon keluargaku.

Ibu : Mundur ke sandaran kursi dan bilang, "Kamu kok berani banget ngomong kayak begitu sm Bos?"

Ayah : senyum-senyum mesam-mesem

Si Nomor 2 : "Emang beda ya. Kalau orang nggak punya rasa takut kehilangan uang, bener-bener berani frontal."

Deg.... Aku mengkeret. Selama ini sih aku memang dikenal agak reaktif dan frontal. Bukan sekali aku menggebrak meja, membanting pintu dan berkata dengan nada tinggi. Tapi suer, aku orangnya kalem kok. Aku hanya akan emosi jika menghadapi 'Orang berpengetahuan minim tapi sok tahu' atau 'Orang yang tidak profesional dalam menjalankan tugasnya di perusahaan'.

Misalnya : Seorang PimRed yang nggak tahu buku-buku apa yang sedang populer di pasaran, atau seorang enterpreneur yang memaksa menerapkan sistem penjualan buku amazon.com di pasar Endonesia tercinta yang notabene minat baca masyarakatnya masih sangat rendah. Ah satu lagi, misalnya seorang manager yang membandingkan omzet perusahaan penerbitan dengan omzet pemotongan ayam!!! Halooo....aku ini bukan orang pintar, aku cuma lulusan sastra, berkecimpung di dunia bisnis pun cuma sekedar jualan genteng. Tapi, meskipun aku nggak pintar, aku masih merasa logikaku normal. 3 contoh yang kusebut di atas merepresentasikan apa? keluguan? kepolosan? atau apa?

hal-hal semacam itu kerap kali diperdebatkan dan membuatku naik darah. Aku memang agak kurang ajar. Waktu SMA, di kelas bahasa Inggris, aku berani tidur lagi setelah ditegur guru. Waktu SMA pula, buletinku dibredel pihak kepala sekolah dan aku dipanggil maju menghadap. Bukannya menunduk pasrah meminta maaf, aku justru adu argumen dengan kepala sekolah meskipun akhirnya tetap kalah. Ya iyalah, siapa sih gue?? So, aku nggak heran dan maklum kalau aku lebih banyak berdebat dengan Bos. Aku bukan tipe karyawan yang patuh langsung bilang 'oke'. Yah kadang-kadang kalimatku sinis juga sih. Takut dipecat? Dulu sih iya....tapi akhir-akhir ini aku heran sendiri, ketakutan itu mulai hilang.

Entahlah, aku merasa benar. dan kalau aku bersikap tak hormat dengan seseorang, bisa dipastikan orang itu pasti lebih dulu tak menghormatiku atau dia melakukan sesuatu yang membuatku hilang respek. 2 kali selingkuh mungkin. Nah, tipa orang seperti itu, meskipun dia presiden sekalipun, nggak akan ada rasa hormatku padanya.

Hilangnya rasa takut ini sepertinya efek doktrinasi Ayah deh. Ayah kan sering bilang, "Jangan takut sama manusia. Yang memegang nasibmu bukan bos, bukan penguasa, tapi Tuhan."

Bener banget. Tuhan kan bekerja dengan cara yang tak terduga. Tuhan kan berkuasa atas segalanya. Bisa melenyapkan harta dalam sekejap. Bisa membuat keberuntungan dalam sedetik. Asal kita yakin, Tuhan kan selalu sayang dengan hambaNya apalagi yang imut kayak aku. Amin...

last,  TIDAK ADANYA RASA TAKUT a.k.a KEBERANIAN MELAWAN (ketidakadilan) adalah salah satu nikmat Tuhan yang suangaaaat berharga dan nggak semua orang bisa menerima. Maka bersyukurlah kalian yang pemberani, hidup kalian lega dan bahagia, kan? :D

Jumat, 03 Agustus 2012

Ketika Materi bukan segalanya

Sudah beberapa hari ini aku dibuat bosan dan nyaris menggebrak meja seperti biasa. Balada seorang manager, lebih sering kena semprot bos daripada karyawan lain. Okey, menghadapi mood bos yang buruk dan sikap keras kepala serta tak mau mengalah memang konsekuensi pekerjaan. Rekan kerjaku, seorang marketing manager dengan leluasanya mencari alasan untuk keluar kantor alias melarikan diri dari amukan si bos. Aku? iseng untuk menguji kesabaran serta memperbanyak pahala di bulan puasa (apalah ini), sengaja duduk manis di kantor dan menunggu didebat si bos besar tentang strategi bisnis, analisis produk, inovasi, pasar, dsb.

Aku seorang sarjana sastra, menjadi business development manager bermodal ilmu bisnis yang kupelajari secara otodidak sejak kecil. Aku belajar negosiasi dari ayahku, yang sering membawaku pergi menemui klien untuk mendapatkan deal besar. Aku belajar menjual dari Ayahku, yang tega meninggalkan seorang anak kecil di sebuah toko genteng dan hanya diberi price list. Ketika aku menunjukkan nota pembayaran pertama yang ada tanda tanganku, Ayahku bangga dan membelikanku bakso 2 mangkok. Aku yang masih berseragam merah putih jelas terlonjak senang meskipun ternyata aku salah hitung dan membuat ayahku tak untung.

Selepas kuliah, aku memutuskan untuk bekerja di orang sambil belajar bagaimana rasanya jadi anak buah. Yah, akhirnya aku benar-benar merasakannya. Aku mengalami semuanya, hinaan, pelecehan secara verbal berupa rayuan-rayuan mesum, tekanan deadline, disudutkan ketika tak kunjung memberi konsep baru, dipersalahkan ketika program yang ada tak berjalan sebagaimana mestinya, gaji yang tak sesuai dengan volume kerja, bla..bla...dan berbagai tetek bengek lainnya. Pokoknya segala macam yang bikin emosi dan sakit hati.

Dalam suatu waktu yang sempit, aku curhat tentang semua beban batinku pada Ayah.Lalu Ayah menjelaskan sistem yang beliau terapkan di yayasan yang beliau pimpin. Kebetulan waktu itu ayahku baru saja meresmikan pabrik kue kering dan catering (dan aku nggak tahu prosesnya sama sekali! Keterlaluan! Aku baru tahu setelah nggak sengaja menemukan laporan bulanan di meja kerja Ayah. Bakery dan Catering?? wew).

Kurang lebih begini penjelasan Ayahku,
Kami menerapkan sistem bagi hasil. Selain UMR sebagai gaji pokok, laba perusahaan dibagi secara proporsional kepada semua karyawan yang terlibat. Jadi, take home pay yang diterima karyawan memang nggak sama setiap bulannya, tapi naik turun sesuai dengan laba perusahaan. Setiap raker, direksi selalu menjelaskan semuanya, secara transparan. Kembali ke niat awal Ayah dan teman-teman membangun yayasan ini, membuka pintu rejeki bagi teman-teman yang lain. Jadi pada akhirnya setiap karyawan merasa memiliki perusahaan dan dengan senang hati bekerja dengan ikhlas. Kami semua keluarga. Kalau ada anak buah yang berhasil ganti mobil, kami yang duduk di jajaran direksi justru merasa bangga. Artinya kami berhasil menyejahterakan karyawan, kan? setuju?

Aku mengangguk paham. Memang sih, loyalitas para karyawan ayahku nggak diragukan lagi. Mulai dari aku TK sampai aku sudah bekerja begini, orang-orang yang datang ke rumahku selalu sama. Dulu mereka muda, sekarang mereka sudah semakin tua, itu bedanya. Dulu mereka datang ke rumah kecilku yang jelek pakai motor, sekarang mereka datang ke rumah besarku pakai mobil. Itu bedanya.

Aku tahu, Ayahku tetap idolaku yang nomor satuuuuuuuu. dan butuh tempaan super untuk bisa jadi orang seperti ayahku. Aku setuju, aku percaya, materi bukan segalanya. Kebahagiaan yang sebenarnya adalah ketika bisa membuat orang lain tersenyum karena kita. Ayahku benar. Thx God.

Senin, 23 Juli 2012

Day-1

Inilah hari dimana aku hanya bisa terkapar di atas kasur, tengkurap menghadap laptop, dengan bantal di bawah perut. Wajahku? meringis jelek sekali. Bangun? aku bisa mendadak jatuh karena jalan yang terhuyung dan kepala pusing seperti mau pingsan.

Inilah hari dimana biasanya Husky bisa berhenti mendengar ocehan-ocehanku yang menyebalkan, sikapku yang 'mbingungi' alias membuat bingung dan berganti dengan rintihan-rintihan kecil.

Inilah hari dimana aku tidak makan seharian dan hanya minum air putih. Hari Pertama. Haid. Menstruasi. Sangat tidak produktif dan membuatku mencoret semua jadwal kegiatan di buku agendaku. Membatalkan janji-janji dan tidur jauh lebih lama dari biasanya. Terima kasih laptop, terima kasih modem. Terima kasih Tuhan.

Bicara soal mestruasi, yang sakitnya minta ampun ini, cowok nggak ngerasain ya? Bicara soal perempuan, soal hamil dan melahirkan, cowok nggak ngerasain sakitnya.

Seorang teman yang sudah melewati proses persalinan dengan selamat menceritakan dengan detail gimana rasnya ngidam, selalu muntah saat ada bau-bauan. Kebayang nggak tuh?? bau aroma bakso aja bisa muntah. dan muntahnya itu nggak bisa ditahan!! Bikin gak nafsu makan, padahal dia harus banyak makan untuk dedek bayi dalam perut.

Udah gitu, kalau perut membesar, tidur nggak bisa tengkurap (padahal ini pose tidur favoritku -_-). Kalaupun mau tidur miring, harus miring ke kanan. Seraaaam.....padahal aku kalau tidur bisa muter 180 derajat. Huhuhuhu....perut penuh kekenyangan aja udah males gerak, apalagi kalau misal hamil isi bayi seberat 2-3kg. Itu dibawa kemana-mana. Tambah lagi kaki bengkak kayak kaki gajah, terusss pas ngelahirinnya....astaga, emang bener-bener harus kuat. Nggak boleh teriak-teriak kayak di film-film. Kalo teriak, kecapekan, bisa MATI. whoaaaaaa....

*berhenti menulis, tarik selimut, tidur

Rabu, 18 Juli 2012

Mimpi yang Timbul Tenggelam

Beberapa hari yang lalu, ketika aku sibuk mengatur jadwal kerjaku, keplerku bergetar. Sebuah SMS masuk. Dari 'KlienXxxxx'. 

"Mbak....mau jadi talent di filmku nggak?"

Deg! banget! Aku baca ulang untuk memastikan si pengirim (sebab semua klien kantor kuberi tulisan Klien di depan namanya). Oh, mahasiswi sebuah universitas swasta di Jogja. Ngomong-ngomong soal film, itu kan cita-citaku sejak zaman batu. Pokoknya aku pengen bikin film sendiri, perkara menang nggak menang saat festival, aku gak peduli. Dengan penuh perjuangan, karena nggak punya dana banyak, aku bisa menghasilkan 2 film pendek bersama teman-teman. Nagih? pasti donk. Aku jelas kangen sekali suasana ribut saat proses pembuatan script, atau keluhan-keluhan yang terlontar saat take.

Film pendek terakhirku, kubuat tahun 2010 saat KKN. Sudah lama sekali yaaa....so, ketika band Husky, si Joker Jester ditawari bikin video klip sama anak Akindo (klo gak salah) aku langsung sangat antusias dan mengemis-ngemis sama Husky biar boleh ikut proses pra-produksi ataupun waktu produksinya. Bahkan ya, aku menawarkan sejumlah uang sebagai produser. Sayang beribu sayang, aku cuma bisa gigit jari ketika Husky menolak dengan tegas. Alasannya sih, dia nggak akan bisa bersikap profesional kalau ada aku (percaya gk?)

Setelah dibuat kecewa, aku kembali menenggelamkan diri ke pekerjaan. Melupakan mimpi kecilku itu. Cita-cita jadi seorang scriptwriter dan copywriter tertimbun kesibukan kantor yang nggak ada ujung. Yaaa...yaaa....benar-benar lupa sampai ada SMS dari klienku itu tadi. Deg! banget rasanya. Memoriku langsung balik ke beberapa tahun lalu ketika laptop jadulku banyak berisi script film pendek. Huhuhuhu...nangis darah. Apalagi ketika script si klien terkirim ke emailku, membacanya saja hatiku ngilu. Rindu! 

Tuhan baik kali ya mengingatkanku akan mimpi awalku, berkarya utk kebaikan masyarakat. Aku nggak pernah kepikiran bakal dihubungi klien untuk urusan di luar pekerjaan seperti ini. Wew....aku pikir aku belum terlalu tua untuk kembali menekuni hobiku. Aku belum tua. Tentu saja, aku masih 23 tahun. Terima Kasih Tuhanku Yang Maha Baik.

Oke, intinya, God, Trims sudah mengingatkanku akan nilai hidup yang harus aku perjuangkan. Jujur sih, aku sempat bosan dengan pekerjaanku sampai-sampai menghamburkan tabungan untuk menghibur diri. Ternyata hidup tanpa memperjuangkan sesuatu itu hampa. Hidup untuk diri sendiri dan tak berbagi itu tidak membahagiakan.


Jumat, 24 Februari 2012

Saat Merasa Lelah Hidup

Inet Kantor Lemot lagi, dan ini artinya aku bisa menulis ceritaku semalam.

Okey…aku sekarang hidup sendiri. Cari makan dan mengurus tempat tinggal sendiri. Walaupun suaka-ku  masih sebatas satu ruang ukuran 3x3, tapi aku mencoba membuatnya senyaman mungkin. Di saat aku berusaha hidup mandiri, sebuah ujian datang menyambangi keluarga yang kutinggalkan. Tak perlulah kujelaskan, tapi ujian hidup yang melanda Ayah dan Ibuku membuatku stress. Kenapa? Sebab aku anak pertama. Dan aku merasa ada tanggung jawab moril terbeban di pundakku.

Stuck. Tak ada ide, tak ada inspirasi membuat pekerjaanku macet. Aku pusing dalam arti sebenarnya. Di saat seperti itu, logikaku mandeg, emosiku meledak, dan aku menumpahkannya ke Husky. Aku manja, egois, dan memaksanya untuk berada di sisiku saat itu juga. Padahal Husky ada jadwal latihan. Kami benar-benar bertengkar sampai menangis. Syukurlah, pertengkaran selesai sore itu juga. Berakhir dengan kata maaf dan sama-sama berjanji untuk berusaha menjadi lebih pantas dicintai. 

Mataku masih bengkak, tapi aku terpaksa berangkat ke Kedai Nusantara (aku berniat batal datang, tapi seorang teman sudah berada di sana dan menungguku). Ada bedah buku “Membunuh Indonesia” karya Abhisam DM yang mengangkat wacana industri kretek/rokok. Atau lebih tepatnya lagi mengulas neo-kolonialisme Amerika-Eropa. Pembicaranya gayeng. Yah..tema memikat yang tak akan bisa kutolak jika saja aku dalam kondisi normal alias tidak sedang kacau jiwa raga. Tapi toh aku berangkat juga walau setengah hati, demi kawan. 

                Acara ini menghadirkan tiga pembicara yaitu:
1.       Mohamad Sobary (Budayawan)
2.       Prof.Dr. H. Susetiawan (Guru Besar Fisipol UGM/Komisi Politik PW NU DIY)
3.       Abhisam DM (Penulis)
Moderator : Drs. Octo Lampito, M.Pd (Pemimpin Redaksi Kedaulatan Rakyat)

Awalnya aku memang merindukan idealisme-idealisme masa muda dulu. Saat dimana aku berapi-api menghujat pemerintah. Saat dimana aku bergabung dengan organisasi pemuda, menentang pemerintah, turun demo ke jalan. Yah…itu dulu semasa SMP-SMA dan semua karena ajakan Ayahku. Aku rindu diskusi-diskusi tentang masa depan bangsa. Sesuatu yang sudah lama kutinggalkan dengan dalih ‘sikap realistis’. Realistis sebab aku harus sibuk mencari uang untuk makan. Padahal faktanya aku menerjunkan diri ke dunia hedon dan menikmatinya. Awalnya itu, aku cuma ingin tahu apa aku masih sekritis dulu. Ya, aku merindukan masa dimana tulisanku dibredel pihak sekolah dan sejak saat itu aku sentimen terhadap politik praktis. 

Awalnya, aku cuma ingin bernostalgia. Tapi ternyata hatiku masih terluka dengan ujian berat yang ditimpakan Tuhan pada keluargaku. Ternyata otakku masih setengah tidur kelelahan, jiwaku lah yang melek total. Grundelan Noe Letto dan lagu-lagunya lebih terekam daripada pidato anti-neo kolonialisme Kang Sobary yang berapi-api dan penuh pisuhan itu.

Noe bercerita tentang beberapa hal yang menginspirasinya. Dia bercerita tentang rasa bosan hidup, rasa putus asa terhadap masa depan Bangsa Indonesia, dan akhirnya berhasil bangkit lagi. Semuany tertuang dalam lagu-lagu yang dia nyanyikan… ‘Layang-Layang’ (malam tadi dinyanyikan oleh Doni ex Seventeen dan suaranya…duh Gustii…bagusss banget!), ‘Sampai Nanti Sampai Mati’, ‘Sandaran Hati’, ‘Cinta Bersabaralah’ dan beberapa lagu lain yang aku gak hafal judulnya. Noe, bercerita tentang kehidupan, tentang spiritualitas, tentang keTuhanan, tentang harapan terhadap Bangsa. Nice! Nggak seperti band lain yang menjual lirik percintaan dua manusia. Cinta yang digarap Noe jauh lebih besar, lebih universal, bahkan cenderung Surgawi. Kawan dudukku bilang, “Lirik lagu Letto nggak akan bisa dimaknai dengan sekali dengar. Butuh berkali-kali denger baru bisa memaknainya.”

Kemarin sore aku berniat utk menyerah. Lalu malamnya nonton LivePerform Letto..setelah menyanyikan 2 lagu, Noe mengajak audience membaca Al-Fatikhah Demi Bangsa lalu lanjut nyanyi lagi... Aku melihatnya sebagai filosofi. Dalam setiap lirik lagu Letto selalu terkandung pesan spiritualisme..yup..hidup hrus selalu dg spiritualisme dan ketika merasa lelah, berhenti sejenak.. lebih mendekat pd Sang Pencipta..lalu lanjut lagi.. Sampai Nanti, Sampai Mati.... #TentangSemalam

Aku mencoba merekam dan membaginya lewat status Facebook, ah tapi sepertinya tak cukup. Masih banyak lagi grundelan yang nyentil di hatiku. Noe bilang, Cinta Tuhan itu bermanifestasi dalam dua bentuk yaitu cahaya dan waktu. Cahaya adalah perwujudan benda, dan ketika kita menyia-nyiakan waktu, artinya kita menyia-nyiakan cinta dari Tuhan.

Tuhan, terima kasih telah melangkahkan kakiku ke Kedai Nusantara semalam. Ternyata Kau ingin mengingatkanku untuk tak putus asa atas rahmatMu, dan bahwa Kau ingin mengingatkanku bahwa ada banyak orang di luar sana yang bisa kembali bersemangat. Cukup berjuanglah sekuat-kuatnya, untuk hasil percayakan padaMu… dan bila aku lelah, yang kuperlukan hanya beristirahat dalam pelukanMu. Tuhan, sekali lagi terima kasih untuk semalam. :)

Ps: Menjumpai Tuhan di warung kopi lagi ya :D

Kamis, 16 Februari 2012

PERLUKAH KITA MENIKAH?



Apa judul di atas terlalu controversial? Aku nggak bermaksud mengundang FPI untuk datang mengunjungi blog ini. Aku cuma ingin berbagi kisah tentang seorang perempuan selain aku. Silakan simak kisahnya:

Sebut namanya Maya. Dia seorang perempuan energik, manis, dan menarik. Dia tak cantik, tapi lelaki jalang yang menatapnya bisa langsung membayangkan ranjang. Maya tak pernah menghendaki punya wajah seperti itu. Tapi apa boleh buat, dia hanya bisa berpakaian sesopan mungkin agar terhindar dari godaan-godaan kurang ajar. 

Maya seorang pekerja keras. Dia lulus universitas pada usia 21 tahun, dan langsung diterima bekerja di sebuah perusahaan nasional. Tidak sampai setahun, dia sudah diangkat menjadi staff manajer di kantornya. Gajinya melonjak tinggi. Dia sudah bisa mengontrak rumah sendiri walaupun sederhana. Kehidupan yang sempurna? Ya, dia sudah merasa cukup.

Yang dia keluhkan hanya satu. Desakan orangtuanya untuk cepat menikah lantaran si Adik yang baru saja diterima bekerja sudah siap menikah. Si Adik, berjenis kelamin laki-laki sudah tidak sabar untuk segera menikahi pacarnya. Sedangkan apesnya, Maya nggak pernah berhasil menjalin hubungan spesial (baca pacaran) lebih dari setahun hingga akhirnya Maya memilih jomblo dan fokus di kariernya.

Aha…mirip sekali dengan nasibku. Tetapi aku lebih beruntung karena aku punya Husky. Ketika Maya bercerita, aku hampir berjingkrak-jingkrak lantaran merasa senang ada kawan senasib. Untungnya aku masih tau diri dan memilih untuk menepuk-nepuk punggungnya.

Maya merasa sanggup menjalani semuanya sendirian, seperti selama ini. Dia —sama denganku— beberapa kali dijodohkan dengan pria-pria berkualitas (dengan latar pendidikan minimal s2 dan pekerjaan yang mapan) tapi Maya menolak mentah-mentah karena ngotot ingin menemukan Kekasihnya sendiri. Dia mengeluh, dia merasa dikorbankan lantaran budaya Jawa yang mengatakan tak sopan jika seorang perempuan ‘dilangkahi’ atau didahului menikah oleh adiknya. Dia dipaksa menerima perjodohan demi menjaga harga diri keluarga. Wew… masih ada orangtua sekolot itu?

Faktanya: MASIH!

Maya merasa belum perlu menikah. Karena toh tanpa lelaki, dia bisa hidup. Memang, Maya seorang gadis mandiri yang tak cengeng. Dia bahkan pemegang karate ban hitam. Dia suka naik motor satria FU. Yah, dia memang susah sekali jatuh cinta. Teman-teman kami sudah banyak yang menggendong bayi, undangan pernikahan membanjir, tapi Maya tetap tak bergeming. Dia terlalu menikmati kesendiriannya.

Aku mendadak teringat kata Ayah,”Ayah cuma khawatir kamu terlalu asyik mengejar karier dan lupa sama umurmu.”

Menikah atau tidak, itu pilihan. Termasuk siap atau tidaknya. Aku berani bertaruh, pakdhe-budheku akan berkicau super lama jika mereka tahu niat baikku mengucurkan dana segar untuk resepsi Adikku sementara aku sendiri belum menikah dan masih berpacaran dengan mahasiswa semester satu. Masalah buat Loh?? *gaya Soimah 

Nasibku memang mirip dengan Maya, tapi bukan berarti aku sepemikiran. Aku justru mengkhawatirkan jika perempuan-perempuan seperti Maya makin menjamur, sementara lelaki-lelaki di luar sana masih megharapkan sosok perempuan lengkap dengan sisi lemahnya, yang ingin dilindungi. Sebab, fitrahnya seorang lelaki memang mengayomi. 

Dan kupikir, menikah tanpa persiapan alias berazas cinta semata adalah omong kosong. Komitmen tetap harus dilatih, mulai dari sekarang. Itulah sebabnya aku juga ngotot belum mau menikah, sebab aku merasa belum bisa berhenti bersikap seenaknya. Yah…walaupun aku mulai bisa berhenti boros karena kartu ATMku tersimpan rapi di dompet Husky, walaupun aku sudah tidak lagi ngeluyur sampai dini hari karena takut dimarahi Husky, dan mengurangi pisuhan demi menjadi perempuan yang lebih dewasa dan pantas dijadikan istri.

Okey…kesimpulannya?

Silakan berkomentar :)



Minggu, 12 Februari 2012

Pangeran Es

Di suatu malam minggu, di sebuah sofa biru yang setengah jebol,

Aku mengacak ujung kepala Husky yang mulai dihinggapi warna hitam. Rambut merah pirangnya memudar. Usek-usek....senyum-senyum simpul dan nyeplos "Pacaran sama kamu tuh cobaan banget deh..."

Sontak Husky mengalihkan kepalanya, memandangku dengan marah. Dia tersinggung. "Kok kamu ngomong gitu?"

Aku yang kaget dengan reaksinya mendekat dan mencoba menjelaskan, "Kenapa marah? kata 'cobaan' berkonotasi negatif ya? kamu salah paham. Sekarang coba deh. Seorang pria dikasih harta melimpah, perempuan cantik, dan kekuasaan. Itu sesuatu yang positif, tapi itu berarti cobaan. Cobaan gak cuma berupa sesuatu yang negatif. Bahkan pujian itu sendiri bisa jadi cobaan."

"Aishh....kamu ini. Sekarang kan bukan waktunya nyastra. Kamu sekarang lagi ngomong sama orang biasa. Kamu bilang aku ini cobaan?"

"Iya..seperti yang aku jelaskan. Ah...kamu ini terlalu pragmatis.." dan aku sendiri mungkin terlalu filosofis.. Ah, tidak.. batinku malah ngobrol sendiri.

"Berarti kamu nganggep aku sesuatu yang harus dilalui? Sebuah cobaan ada untuk dilalui, kan??" Nada suara Husky semakin tinggi. Dia setengah membentak.

EAAAA! Aku speechless.  Malas berdebat, akhirnya aku menutup dengan kalimat ,"Ya nggak gitu juga kali.....". Sebenarnya aku ingin menutup dengan sebuah pelukan dan kecupan. Tapi aku sadar aku nggak mungkin melakukannya di depan umum.

Malamnya, Husky SMS. Meminta maaf karena tadi sudah membentak. Well, aku membaca SMS itu pagi hari dan membalasnya dengan SMS panjang. Masih berusaha menjelaskan makna kata 'cobaan' yang kumaksud. Cobaan, karena aku kerapkali memikirkan Husky sepanjang hari. Dimana-pun, kapan-pun. uncontrolled.

Sekarang, pertanyaan Husky yang disertai amarah itu membayangiku. Kemarahannya itu, bentuk perasaan 'tidak terima'nya itu apakah suatu indikasi bahwa dia serius pacaran denganku? Tidak ingin jadi 'sesuatu yang dilalui'. Sepertinya benar seperti itu, dan aku senang.

Sebagai perempuan, aku kerapkali sangsi dengan perasaan Husky. Habisnya, dia tipe cowok cuek yang jarang sekali bilang sayang duluan, atau membicarakan hubungan kami berdua secara serius. Dia hanya akan bercerita tentang aktivitasnya. Bahkan dia tak pernah bilang kangen. Kalau kutanya apa dia pernah kangen, dia akan jawab pernah. 'Tapi nggak perlu bilang.' Arghhhh.....anak ini.....

Dalam membangun sebuah hubungan, kadang kita membutuhkan kalimat-kalimat lugas seperti 'I love You' tapi faktanya nggak semua lelaki bisa mengatakan kalimat-kalimat seperti itu dengan mudah. Seperti ada beban tersendiri semacam rasa malu dan gengsi. Entah ya, kalau para playboy di luar sana mahir mengucapkan cinta dan segala janji manis tentang komitmen tanpa beban. Mungkin karena komitmen bukan sesuatu yang bernilai tinggi di kepala mereka.

Menurutku, lelaki yang seperti ini jauh lebih manis daripada seseorang yang mengucapkan i love you setiap hari. Ini sih opini pribadi. Tak perlu dipusingkan.

Yang jadi masalah adalah ketika lelaki tipe ini berpasangan dengan perempuan haus perhatian. Oke, adalah wajar ketika seorang perempuan menginginkan perhatian lebih. Perempuan terlahir dengan body seksi dan segala keindahannya itu takdir. Perempuan diciptakan untuk menjadi pusat perhatian. Perempuan selalu haus kasih sayang. Benar? jelas benar, sebab produk fashion dan make-up lebih laris daripada kemeja pria.

Perempuan mengagumi perempuan lain yang lebih berkilau, itu wajar. Kalau Anda lelaki, jangan sekali-kali memuji penampilan lelaki lain seperti 'cowok itu keren dan ganteng banget ya.'...Anda bisa di-cap GAY! paling tidak, itulah fakta yang terjadi di lingkungan sekitar saya. Perempuan selalu ingin diperhatikan, apalagi oleh lawan jenis.

Kembali ke bahasan semula, nggak semua perempuan bisa betah membangun hubungan dengan Pangeran Es. Si Perempuan akan kerap merasa tak dihargai, tak disayang, dan bisa jadi merasa dipermainkan padahal Si Pangeran Es tidak bermaksud begitu. Besar kemungkinan Si Pangeran Es hanya tidak tahu harus berbuat apa untuk mengatasi tuan putrinya yang mendadak bawel dan terlihat egois. Jika keberuntungan tidak memihak, omelan panjang Tuan Putri bisa membuat Pangeran Es lelah dan meledak. Mereka akan saling tuding, saling tuduh bahwa pasangan mereka egois, tak ada pengertian. Pertengkaran hebat bisa berujung perpisahan. 

Yah, klise memang, tapi benar adanya bahwa komunikasi adalah kunci. Banyak-banyaklah membaca, menambah kosa kata, agar kita tak lagi merasa sulit untuk mengekspresikan perasaan.

Untuk para perempuan yang mencintai Pangeran Es, banyak-banyaklah belajar memaklumi. Selayaknya gunung es, kasih sayang mereka jauh lebih besar terpendam dalam kedalaman. Untuk para Pangeran Es, nggak ada salahnya belajar bersikap atau berkata lugas. Sekali-kali tak apalah.

Inspired by: Husky
Dedicated for: MyBeloved Dad, yang hampir tak pernah bilang 'sayang' ke anak-anaknya tapi melakukan semua yang terbaik dalam diam.

Seorang cowok bisa memberimu sejuta kata-kata manis. Tapi seorang Pria bisa memberimu satu komitmen tanpa sepatah kata-pun

Senin, 06 Februari 2012

Mempersiapkan Kehilangan


Talk about our future
like we had a clue
Never plan that one day
I'd be losing you

Lagu “The One That Got Away” yang dinyanyikan si Kucing Katty Pery ini sedang repeat mode di playlist winampku. Musiknya sederhana, gebukan drumnya simpel. Tapi liriknya, tepat waktu. 

April 2011, tanpa persiapan apapun, ketika aku sedang merasa sangat bahagia dan berbunga-bunga, saat aku merasa menjadi perempuan paling beruntung di dunia, sebuah musibah besar menimpaku. Tak perlu diceritakan musibah seperti apa, yang jelas membuatku ‘merasa’ sangat kecewa dan kehilangan. Kehilangan Babi. Satu-satunya orang yang tahu lebih banyak tentangku daripada orangtuaku. Satu-satunya orang yang kupercaya dan tempat curhat selain Tuhan tentunya. 

Yang kualami tahun lalu, sepertinya adalah hal yang biasa untuk orang-orang luar biasa di luar sana. Tapi baru pertama kalinya buatku. Bahkan Sembilan tahun lalu, saat sahabatku Haida meninggal dunia, beberapa bulan sebelumnya, Dokter sudah memberitahuku kalau umurnya tak lagi lama. Aku sudah penuh persiapan, mempersiapkan diri untuk kehilangan. Mempersiapkan diri untuk menemaninya di saat dia menutup mata. 

Talk about our future
like we had a clue
Never plan that one day
I'd be losing you

Lirik itu benar adanya. Kita kerapkali terbius dengan rasa bahagia, apalagi jika bicara tentang cinta. Berbicara tentang masa depan, merencanakan banyak hal bersama. Yang tidak direstui orangtua, merencanakan kawin lari, hidup berdua sampai tua. Membangun keluarga dan berbahagia selamanya. Merencanakan karier, merencanakan design rumah sederhana, nama anak, dan anjing-anjing kecil yang manis. Merencanakan mobil yang akan dibeli.

Oke, itulah manusia. Selalu penuh rencana, dan rencana itu yang menyakiti diri sendiri ketika akhirnya kenyataan tak sesuai. 

Never plan that one day
I'd be losing you

Lirik itu benar. Kita jarang sekali merencanakan antisipasi kehilangan. Tapi siapa juga yang bisa menyalahkan. Bahagia itu candu. Ketika merasa bahagia, manusia bisa lupa segalanya. Dan ketika rasa bahagia itu dicabut, manusia terhempas dan kemudian meratap. Habis-habisan. Putus asa. Agar tak terlalu jatuh, mengapa tak kita persiapkan dari sekarang? Kebanyakan orang takut membayangkan kehilangan. Takut bersedih, tapi bukankan kita hidup di dunia? Bukan di khayangan,kan? 

Untuk tetap hidup, kita butuh kesadaran kan?? Banyak orang mengeluh,”Ikhlas itu nggak gampang.” (termasuk aku). Mungkin membuat rencana saat kita kehilangan bisa sedikit membantu. Paling tidak, ketika kehilangan itu terjadi, kita sudah sedikit lebih siap dan lebih mudah ikhlas.

Kalau dalam agama Islam, ada istilah “Innalillahi wa innailaihi rajiun” yang artinya: “Sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali”

SEMUAnya itu milik Tuhan. Dan Tuhan berhak mengambilnya kembali. Sewaktu-waktu. Pada intinya memang kita manusia tak punya apa-apa. Tidak pernah punya apa-apa. Bahkan nyawa-pun hanya pinjaman.
Oke, kupikir nggak ada salahnya kita merencanakan kehilangan. Tak perlu spesifik menuliskan bagaimana cara kehilangan itu (karena toh kita tak tahu). Cukup menuliskan beberapa tindakan antisipasi yang akan kita lakukan saat kita kehilang sesuatu atau seseorang yang berharga itu. Misalnya:

-Memaafkan diri sendiri.
-Mendekat pada Tuhan. Sekedar berkunjung ke rumahNya, hanya duduk diam dan curhat.
-Membuat orang lain tersenyum dan merasa berharga. Sekedar mentraktir beberapa anak jalanan untuk makan di restoran mungkin. 

Yah….itu cuma contoh. Sekali lagi, kita cuma perlu mempertahankan kesadaran kita bahwa kita tak punya hak milik apapun di dunia ini. Kita benar-benar tak pernah punya apa-apa. InsyAllah, jika kita tetap sadar dan tak terbuai angan….kita bisa lebih bertanggung jawab dan tegar dalam menjalani hidup.

Special thx for Husky, atas kalimatmu, “Ngapain patah hati lama-lama. Aku nggak terlihat sedih lantas orang bilang aku sebenernya udah nggak sayang lagi? Aku cuma udah ikhlas. Ikhlas karena toh dia juga sebenarnya bukan punyaku.” Kasuistis memang, tapi sekali lagi, tepat waktu.

Ps: kesadaranku menurun. Sudahlah, sampai di sini dulu -___-

Jumat, 03 Februari 2012

This Boy...

Selepas jam 3 sore adalah waktu dimana otakku berhenti saking panasnya. Lelah dan penat dengan pekerjaan kantor yang menumpuk. Melongok ke buku agenda, masih banyak PR untuk besok pagi. Aku masih menyetel musik keras-keras agar tetap terjaga. Beberapa hari ini aku mulai bosan, penat, dan stress. Keluhan yang sangat klise, dan hampir semua manajer di kantorku mengeluhkan hal serupa.

Iseng, aku membuka facebook-ku. Tiba-tiba ada seorang kawan mengirimkan chatbox. Isinya simple:

MBAKKK AQ DPT KERJA BARU

Simple tapi sangat menyentak hanya karena yang melapor dengan nada riang (terindikasi dengan penggunaan Capslock) adalah seorang cowok muda, anak tengah dari enam bersaudara (kalau nggak salah), dan gamers. Yang aku tahu, anak-anak seusianya (notabene belum lulus kuliah) masih minta duit ke orangtua. Tapi anak ini, seringkali melaporkan aktivitasnya: Lagi jaga GameNet nyambi ngeGame-kuliah-ikut kegiatan kampus. Anak ini selalu senang tiap kali tanggal muda, hebohnya nggak kira-kira. 

Aku tahu, kebanyakan gamers itu autis. Kalau udah di depan PC, lupa segalanya. Secara ya Babi itu gamers. Anak ini juga gamers, tapi dia beda. Kalaupun dia menghabiskan waktu di GC, dia memilih jadi operator. Bisa tetep maen, bisa dapat duit. Belum lagi kalau dia jadi panitia event turney. Selalu bersemangat. 

Dan sekarang, anak ini dengan bangganya melapor bahwa dia baru saja diterima di divisi Event Marketing sebuah operator selular yang sedang naik daun. Well, anak ini. Jurusan hukum. Main DOTA jago. Sekarang masuk tim kreatif perusahaan operator selular skala nasional. Padahal dia belum di wisuda. Betapa beruntungnya.

Dia pantas mendapatkannya. Dia pernah mengeluh kurang tidur karena harus jaga GameNet sampai pagi, dan langsung lanjut kuliah. Dia mengeluh, itu wajar. Dia manusia biasa. Ketika anak-anak seumurannya masih senang bergelut di GameNet, maen sampai pagi, bolos kuliah sampai IP anjlok, dia sudah bisa berbangga dengan kemandiriannya.

Oke, Patz, congratz!! Aha, satu keluhanmu yang kuingat, masalah cewek. Kamu belum punya pacar. Kalau perkiraanku sih, Tuhan sedang menyiapkan perempuan baik (bukan sembarang kimcil) untukmu. Perempuan yang memang layak bersanding denganmu. 

Sekali lagi congratz!! Berhasil bikin aku merasa malu gara-gara menyalip karierku. Wkwkwkwkw #JLEB

Sabtu, 28 Januari 2012

Seorang Pria yang Setia Pada Perempuan Menyebalkan


Seorang gadis SMU berseragam pramuka duduk di depanku. Dia memotong-motong steak sambil berceloteh,

“Ayahku sepertinya lelah. Kemarin beliau mengeluhkan ibuku yang selalu sibuk dengan kerjaan kantornya setiap pagi sementara Ayahku memasak sarapan.”

Aku menyahut sambil memasukkan sepotong wortel ke mulutku, “Bikin sarapan sendirilah. Kamu sudah terlalu besar untuk selalu dilayani.”

Gadis itu langsung menjawab, “Aku nggak suka sarapan. Tapi Ayah selalu maksa. Dan sepertinya Ayahku sudah benar-benar lelah, dan mengeluh padaku. Di mobil, beliau curhat. Katanya, sikap ibuku terlalu kekanakan dan egois, nggak pernah memikirkan anak-anaknya. Saat makan malam, aku bilang pada Ibuku bahwa dia begitu childis. Ibuku marah-marah, dan aku memutuskan untuk masuk kamar. Aku sungguh nggak habis pikir, Ayahku itu pria yang sangat tinggi harga dirinya, tapi rela memasak setiap pagi. Aku tahu, beliau marah. Beliau suka memukul wajan dengan sangat keras. Tapi cuma sekali, setelah itu sudah.”

“Hmmm….Ayahmu penyabar sekali.” Lanjutku sambil mengiris-ngiris double tenderloinku.

“Aku juga nggak habis pikir, ayahku yang seperti itu menikahi Tuan Putri. Ibuku itu nggak pernah nggak dilayani dan hampir nggak pernah dikritik atau dimarahi kakek-nenekku. Jadi parah banget deh kalau sampai aku mengkritik ibuku dengan bahasaku yang…u know lah..kasar banget. Kadang jengkel, melihat Ayahku melakukan semuanya untuk Ibu. Semua, mulai dari memberikan posisi penting di perusahaan, sampai membangun divisi dan kantor baru khusus untuk Ibu. Dan dengan seenaknya, Ibuku resign, hanya karena masalah sepele. Ayahku terpaksa menahan malu atas sikap Tuan Putri yang manja itu sambil pontang-panting mengurus anak perusahaan yang kacau. Yah…biar gimanapun, dia Ibuku.”

“Hiburlah Ayahmu…” kataku.

“Dan belum lama ini, Ibuku pulang membawa sekantong besar kain-kain mahal. Kamu ngerti, kan? Koleksinya. Ayahku cuma bisa tersenyum kecut. Itu artinya, keuangan keluarga sedang mepet.”

Oke, STOP. Cukup sampai di situ. Obrolan saat makan siang tadi sangat membekas di pikiranku. Ibu Si Gadis SMU itu pernah membuat kesalahan besar , dan sampai saat ini Ayahnya masih saja berlaku baik. Masih begitu penyayang sementara istrinya masih saja belum bisa dewasa. Ya Tuhan, pria itu ciptaanMu yang nyaris sempurna. Sangat berwibawa, penyayang, dan setia.

“Aku pikir, ibuku adalah perempuan paling beruntung di dunia dan ayahku adalah pria paling malang.” tutup Si Gadis.

Aku tersedak, dan nyaris mengamininya. Aku berubah pikiran ketika BB-ku berbunyi. Ada SMS dari ibuku,

“Mbak Ay nggak pulang? Ini Mommy bawa kain macem-macem. Ada yang kotak-kotak juga, siapa tau Mbak Ay ada yang suka.”

Ah….dasar. sikap shopaholicnya belum hilang. Aku mendadak ingat tumpukan kain warna-warni yang belum aku jahitkan di dalam lemari. 

Itu ibuku. Yang sudah lebih dari tiga kali mencoba menjodohkanku dengan anak teman-temannya. Ibuku yang sangat ingin aku bisa hidup tenang di rumah mewah, dengan sopir dan pembantu. 

Itu ibuku. Yang kerapkali membelikanku baju, makanan, yang sama sekali bukan seleraku. 

Biar bagaimanapun, itu ibuku. Aku tahu, setiap orang mencintai dengan cara yang berbeda-beda. Sometimes, cinta memang nggak bisa di logika. Seperti kenapa ada pria yang begitu setia pada seorang perempuan menyebalkan (seperti aku). 

Dedicated for : MyLovelyDad and someone out there