Tampilkan postingan dengan label His Name is Naga. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label His Name is Naga. Tampilkan semua postingan

Kamis, 19 April 2012

always be your lil' girl


Semalam, sekitar pukul 7, aku masih duduk manis di meja kerjaku, menghadapi beberapa surat penawaran, berbagai social media, dan laporan penjualan. Aku belum juga selesai menyusun laporan untuk meeting all manager besok pagi. Semuanya terasa biasa saja saat tiba-tiba keplerku berkedip, dan kulihat chatbox bbm. Ayah, mengirim pesan super panjang yang sontak membuat mataku berkabut. Untung nggak ada satu orangpun di ruanganku. Jadi aku bisa leluasa menderaskan air mata. Aihh..cengeng. 

Pemicu pesan panjang yang menohok hati itu adalah, Display Picture bbm-ku sore tadi. Aku memasang Foto Husky berambut merah dengan senyum manisnya. Ayahku menjadi sangat khawatir dan mengirimkan banyak kalimat berisi wacana calon suami yang baik, kriteria pemimpin rumah tangga yang ideal dsb. Aku tahu, beliau sedang benar-benar khawatir. Waktu dulu aku memasang foto Husky berambut hitam dan berkemeja, beliau sama sekali tak keberatan. Tak ada nada protes. Tapi sekarang?

 Foto yg kupakai untuk Display Picture bbm

Aih...sepertinya aku sudah sangat jahat pada lelaki dewasa nomor 1-ku itu. Aku kan belum menikah dan masih anak gadisnya. Aku sudah membuatnya khawatir, jauh lebih khawatir daripada waktu beliau menemukan rokok di tasku saat SMP dulu.

Perdebatan via bbm semakin panjang dan memanas. Aku memutuskan untuk segera pulang ke kost dan menangis sepanjang perjalanan. Mungkin tubuhku lelah, jadi perasaanku menjadi sangat sensitif. Atau karena aku terlalu sedih tak bisa memenuhi keinginan ayahku (hari minggu lalu aku menolak dikenalkan dengan salah satu muridnya yang berprofesi sebagai dokter). Huwaaaaa....

Perang chat itu berlanjut sampai larut malam sampai akhirnya aku ketiduran dan bangun sekitar pukul tiga dini hari. Mungkin Tuhan menyuruhku menghadap-Nya, menyuruhku meminta bantuan-Nya saat itu juga, saat orang-orang terlelap tidur. Waktu yang katanya sangat manjur untuk berdoa, dan sangat dekat dengan-Nya. Whateverlah, aku terbangun karena mules di perut tak tertahankan, kebelet P*P.

Aku merenungi banyak hal. Aku ingat ketika aku patah hati karena gagal menikah beberapa tahun silam, beliau memang diam tak memelukku. Waktu aku putus dengan mantan tunanganku itu, beliau sedang berlibur ke Bali, dan ketika beliau pulang, beliau tak mendapatiku di rumah. Aku tak pulang sekitar 3 minggu. Aku tahu beliau sangat sedih, bahkan tanpa perlu bicara. Beliau sedih melihatku bersedih, sampai akhirnya Beliau membelikan Paus (beat biru mungil) untukku. 

Aku tahu Ayahku super posesif. Terlihat sekali dari caranya membesarkanku. Waktu aku SMP, aku dilarang pacaran. Bahkan Ayahku pernah menguntitku dari sekolah ke gramedia hanya untuk melihat aktivitasku (karena saat itu aku jalan berdua dengan seorang sahabat lelaki). Ayahku itu gampang sekali khawatir. Kalau lepas maghrib aku belum pulang, handphoneku tidak akan pernah berhenti berdering. Beliau akan membentak keras, dan menyuruhku segera kembali ke rumah.

Ayahku itu, sangat paranoid. Waktu aku belajar naik motor, beliau membonceng di belakang dan berteriak-teriak panik dengan nada marah jika aku mengerem mendadak atau tidak sengaja menarik gas terlalu kencang. Beliau takut aku jatuh. Hal itu berulang ketika aku belajar menyetir mobil. Beliau akhirnya berhenti mengajariku hanya karena takut melihatku terluka.

Seorang kawan beliau yang waktu itu datang berkunjung, juga budheku, menasehati Ayah, “Biarin jatuh, biarin nabrak. Kalau nggak kayak gitu nggak akan bisa.”

Ah, beliau masih saja terlalu mengkhawatirkanku. Bahkan di usiaku yang sekarang menginjak 22 tahun, beliau masih saja menganggapku gadis kecilnya. Mungkin, di mata beliau, gadis kecilnya sedang bersanding dengan preman bercelana jeans belel berlubang, rambut disemir merah menantang, gondrong, dengan rokok di bibir, dan lagu-lagu nirvana yang menghentak. Okelah, orangtua mana yang nggak khawatir melihat anaknya seperti itu?? (ini salahku karena aku berpose terlalu manis & penurut di depan beliau).

Sepertinya aku mulai mengerti.

Selesai P*P, aku mengirim pesan panjang ke ayahku. Aku tahu, beliau masih terlelap dan baru akan bangun subuh nanti. Tanpa berderai air mata dan penuh semangat aku memohon pengertian. Aku tidak lagi berusaha membela Husky sebagai pacarku, tidak lagi membela diri dan meyakinkan bahwa pilihanku adalah yang paling benar. Namun, aku memohonkan kesabaran beliau untuk menunggu proses pendewasaanku. Aku memohon pengertian beliau serta menenangkan bahwa aku sedang dalam proses memperbaiki diri agar mendapat jodoh yang baik pula.

Syukurlah, diskusi malam tadi berakhir dengan kalimat “Tapi bagaimanapun...Ayah percaya Mbak Aya akan bisa melewati dan menimbang masalah ini dg dewasa. I am proud of you.”

Legaaaaaaaa...... sekarang tugasku hanya membuktikan bahwa aku berproses menjadi lebih baik dengan Husky di sampingku. Dan semoga Husky juga demikian. Amin u.u

*terkenang pertengkaran minggu lalu (15 April 2012) ketika aku menolak pulang & masih pengen nongkrong padahal sudah lewat 12 malam, dan Huksy bilang “Aku cuma pengen kita jadi lebih baik aja...maap kalo caraku salah.” :’(

Kamis, 12 April 2012

Kok Nggak Jijik??

Kejadian ini terjadi 14 februari 2012 lalu (lho? bertepatan dengan valentine ya? Tapi Husky nggak merayakannya karena dia seorang muslim)

Aku dan Husky hendak pergi jalan-jalan. Aku mengambil legging hitam dari lemari yang masih terlipat dan wangi. Aku bermaksud memadu-padankan dengan jaket Xtra Large. Kombinasi kesukaanku. Melihatku mengambil celana ketat berbahan tipis itu, spontan Husky bilang," NGGAK BOLEH."

Aku ngeyel dan bilang kalau nggak ada celana lagi yang pantas dipakai keluar. Aku nggak bohong, karena jeans terakhirku sudah kupakai genap seminggu (atau bahkan lebih ya? :D) dan lainnya terpuruk pasrah dalam keranjang baju kotor. Aku tetap ngotot pakai legging sambil berjanji untuk memakai atasan super kombor yang menutup pantat.

Huksy berjalan ke arah gantungan baju sambil bilang, "Nggak boleh. Pokoknya nggak boleh. Celana apa itu ketat banget kayak nggak pake celana."Dia lanjut mengaduk-aduk beberapa pakaian yang tergantung tak beraturan sampai menemukan jeans terakhirku.

Husky menariknya, dan menyodorkannya padaku. "Nih, ada celana."
kujawab, " Itu kotor, Taey.....udah kupakai seminggu."

Tadinya nih, kukira cowok manis berkulit putih (yang membuat Sinchan ngotot bilang dia keturunan portugal) itu akan melempar celanaku ke keranjang kotor dan menyerah, mengizinkanku memakai legging. Tapi ternyata...

Husky mengendusnya!! Sumpah aku kaget!! Husky mengendus celana jeans biru dongker itu di beberapa tempat. Tingkahnya spontan membuatku panik! Panik sepanik-paniknya! Celana itu kupakai berhari-hari tanpa dicuci (nggak usah protes, bukan celana jeans namanya kalau sekali pakai langsung dicuci). Aku takut Husky mengendus bau yang tak sedap. Alamaaaaaaakkkkk......

Setelah hampir semenit, Husky mendongak dan mengangsurkan celana itu padaku. Katanya dengan nada  tegas tapi santai, "Nggak bau kok. Udah, pokoknya harus pakai celana jeans. Nggak boleh pakai legging!"

Kalau ingat kejadian ini..aku.... speechless...

Rabu, 04 April 2012

untuk pertama kalinya aku merasa sangat iri

Untuk pertama kalinya aku merasa iri dengan seseorang...

Dia ada di dekatku...
Aku tahu ceritanya. Aku tahu aktivitasnya...

Ketika dia ingin belajar gitar, dalam waktu singkat dia bisa memainkan permainan yang rumit dengan nyaris sempurna. Dia menuai pujian atas keberhasilannya....

Ketika dia ingin belajar design, dalam waktu singkat dia berhasil membuat vektor yang bagus dan menuai pujian [lagi]...

Ketika dia iseng maen DOTA, dalam waktu singkat dia sudah lebih jago daripada teman yang lebih dulu main DOTA...

Dan terakhir, beberapa bulan lalu dia bilang ingin jadi vokalis. Aku tertawa ngakak waktu mendengarnya menyanyi pertama kali...tapi semalam, aku dibuat bungkam saat melihatnya perform. Suaranya meningkat bagus dan enak didengar!!

Aku iri...

Yang kutahu dia cuma hobi tidur. Dia bisa tidur 12 jam sehari (paling tidak itulah yang kusimpulkan dari laporan hariannya via SMS)

Aku iri...

Sampai kuingat betul, beberapa malam sebelumnya dia sangat tertarik dengan cajon...kotak kayu pengganti drum yang biasa dimainkan saat pertunjukan musik akustik itu dipukulnya dengan penuh semangat sampai kulit buku jarinya mengelupas... yang kulihat di sana, seorang anak kecil berwajah menggemaskan, dengan pipi tembam yg hampir jatuh sangat antusias dan bahagia memainkan cajonnya... seperti bayi yang mendapatkan mainan baru...





Mainan cajon sampai lupa diri >.<


Aku iri...

Sampai kuingat jari-jarinya kapalan seperti tangan kappa. Ujung jarinya sangat keras dan tak lembut.

aku iri...

sampai kuingat betul, dia sering lupa balas SMS atau angkat telponku karena asyik main gitar atau menggambar...dan dia betah mendekam dalam rumah sampai subuh menjelang...hanya untuk dua aktivitas itu...

aku iri...

sampai akhirnya aku luapkn semuanya ke dia, dan dia balas "Kamu nggak tahu aku di rumah ngapain aja. Aku kan rajin berlatih :D wkwkwkw. Kamu juga bisa kok kalau usaha :p"

aku memutuskan untuk nggak lagi iri...

sebab kuingat betul kata seorang teman, "Diam-diam dia suka nonton rekaman ulang tournament DOTA dan belajar strategi..."

atau kata teman satunya lagi, "Dia youTube-an... belajar otodidak."

aaaaaaaa.......rasanya tajam juga iri sama pacar sendiri :'(

Ps: Dia masih Husky, karena rambut merahnya masih tersisa. Tapi sebentar lagi dia akan kembali jadi anak Naga yg gagah :D

Rabu, 22 Februari 2012

Ketika Kesabaran Sedang Diuji

Pas buka fesbuknya Husky, dia habis upload gambar. Aku liatin agak lama dan tertawa. Aku ingat kebiasaannya memasak mie tengah malam.... Mie Sedap Rasa Coro? :DD

Selasa, 31 Januari 2012

Tentang Rasa dan Komitmen


Aku        : “Kalau misalnya kamu sudah punya pacar, lalu tiba-tiba kamu ketemu orang dan ngerasa suka pada pandangan pertama, apa yang akan kamu lakukan?”

Husky    : “Ya udah. “

Aku        : “Ya udah gimana? Terus mutusin pacarmu dan ngejar orang baru itu?”

Husky    : “Kamu bilang suka,kan? Ya udah, kalau suka ya suka. Tapi gak perlu kan aku SMS dia, telpon dia, ngajak jalan dia. Kan aku udah punya pacar.” (dengan suara galaknya yang khas)

Aku        : “Husky……” (peluk)

Ya…perasaan tertarik dengan orang lain itu wajar. Sangat wajar. Kita hanya akan diberi dua pilihan, membiarkan rasa itu mati dan tetap menghargai komitmen dengan pasangan, atau malah membuka peluang untuk rasa itu tumbuh lebih subur. Opsi kedua adalah jalan lapang menuju perselingkuhan. Semoga logikaku tetap terjaga saat jatuh cinta dan tidak hanyut oleh nafsu perasaan belaka. Amin :)

Senin, 09 Januari 2012

#JLEB moment: Belajar dari Husky

#JLEB moment: Belajar dari Husky (Aku memutuskan, selama Naga berambut merah, aku akan menyebutnya Husky >.<)


Paling nggak, otak kecilku ini mengingat beberapa kejadian berkesan yang agak #jleb. Pelajaran berharga untuk gadis ingusan macam aku.

Misalnya:

1. Ketika aku dan Husky berniat pergi makan di sekitar kost. Karena pergi nggak akan lama, aku langsung menutup pintu kamar tanpa mematikan lampu dan kipas angin. TV pun kubiarkan menyala. Lantas cowok manis berkacamata itu berkomentar,

Husky  : “Matiin donk TV-nya. Boros tauk.”
Aku     : “Biariiin….kan aku udah bayar. Suka-suka donk makenya seberapa.”
Husky  : “Iya, tapi bisa jadi kebiasaan sampai besok punya rumah sendiri.”
Aku     : “Eh…..”

Kupikir dia cowok cuek yang pemalas dan tahunya cuma nongkrong-kuliah-tidur. Ternyata dia cukup perhatian untuk hal sekecil ini. Listrik lhoooooo…..secara aku anak kost. Udah bayar di muka, mau pakai listrik seberapa banyak-pun itu hak aku. Pokoknya udah bayar dan trima beres. He…baru nyadar, betapa idiotnya aku ini :(

2. Ini cerita ketika aku menanyakan kabar kakaknya yang sedang menempuh studi S2 (kalau nggak salah sih spesialisasi kenotariatan) dan berkabar tentang rencana masa depan salah seorang sahabatku yang ingin langsung lanjut s2 begitu lulus nanti. Aku ngiler, dan kubilang padanya aku ingin S2. Oh ya, sekedar info, kakaknya Husky umurnya tiga tahun lebih tua daripada aku.

Husky  : “Tauk tuh kakakku, sibuk kuliah. Masih pake uang ortu. Mmmm….tapi ya nggak apa-apa sih. Toh itu jelas buat kariernya dia besok. Kalau ambil S2 cuma karena pengin….haddeh….” [asli struktur kalimatnya kacau banget, dibiarkan menggantung dengan nada sakratis yang samar. Tapi aku paham apa yang dia maksud]

Aku     : krik…krik…krik…[terdiam lantaran merasa tertusuk]

Jujur aja sih, aku pengen banget ambil S2 di CRCS (Center for Religious and Cross-Cultural Studies). Alasannya? Ya karena aku tertarik dengan bidang studi itu. Murni karena tertarik tanpa ada pikiran lebih jauh untuk menggunakan background akademis tersebut sebagai bekal mencari pekerjaan. Simple sih, sebab di otakku hanya terpikir kalau esok bakal meneruskan bisnis konstruksi milik orangtuaku.

Argument sederhana yang keluar dari sosok cowok muda berambut merah yang terlihat sangat labil itu mempesonaku. Lebay? Biarin. Soalnya, opini pribadi Husky yang mungkin terlontar dengan spontan itu mengintrospeksi ambisiku. Akhirnya aku memilih untuk, menginvestasikan uangku, membelikan handphone, dan membiayai liburan adik-adikku daripada memberikan uangku untuk UGM lagi. Ah, bener sih. Soal ilmu humaniora seperti itu, “bisa kamu pelajari dimana aja…”


Kamis, 22 Desember 2011

Belajar tentang Lelaki

"Aku perempuan, dan kau lelaki muda. Waktu itu, di tengah ratusan manusia, kita terhimpit. Aku merasa sanggup menerobos kerumunan, maju mendahuluimu, menggandengmu lalu membuka jalan. Merangsek maju nggak peduli harus berbenturan dengan orang-orang. Hanya beberapa langkah saja, kau menarikku ke belakang dgn agak kasar. Kau membuka jalan dan membiarkanku terlindung dibalik tegapnya badanmu. Ah.....aku ini sbenernya cewek apa cowok sih? kenapa terobsesi sekali ingin melindungimu? #Kepanasan"


Kutipan di atas adalah status FB-ku hari ini. Kalimatnya sangat berantakan, jauh dari kesan artistik, dan kumaafkan. Kumaklumi. Sebab aku menulisnya dengan kondisi setengah sadar menahan kantuk sambil mencoba berdamai dengan nyeri rahimku. Derita perempuan dewasa setiap bulan. Nyeri haid membuatku sangat tidak produktif.

Status itu terinspirasi dari kisah nyata pada 12 November 2011 kemarin. Yak, untuk pertama kalinya, aku dan Naga pergi ke event Ngayogjazz di KotaGedhe. Tahun lalu, seorang cowok mengajakku nonton acara itu, tapi dengan keterbatasan pengetahuan tentang musik jazz, aku menolak mentah-mentah. Saat itu, aku khawatir akan mengantuk dan mati bosan mendengar suara-suara terompet. Bodohnya!

Rasa ingin tahuku mulai meluap justru ketika melihat foto Naga bersama teman-temannya di event Ngayogjazz tahun 2010. Bukan karena jenis musiknya, tapi lebih karena suasananya. Ramai! Penuh! Padat! Kerumunan orang-orang berjejalan, tumplek blek! Itu yang kusuka. Itulah kenapa aku selalu suka festival dan karnaval. Sebab aku suka melihat berbagai macam orang, dari berbagai macam lapisan sosial.

Foto ini yang bikin aku mupeng. Backgroundnya ya, wkwkwkwk

Ow ow, yang kusuka jelas bukan sembarang keramaian. Aku nggak suka keramaian konser band sebab yang akan kujumpai di sana adalah ratusan orang dengan tipe yang sama. Kalau yang manggung band pop, penontonnya ababil-ababil dengan kaos distro, rambut segi, dan poni lempar. Kalau yang manggung band metal-punk, penontonnya punya dandananan yang sama. Rambut Mohawk, celana pensil super ketat dengan banyak pernik, jaket junkies, piercing. Kalau yang manggung band grunge, aku bisa melihat-lihat parade kemeja flannel gratis. Hihihihihi [aslinya aku penggemar kemeja flannel]

Berbekal rasa penasaran [selain karena memang aku jarang jalan bareng Naga yang katanya agak ganteng itu], aku dandan manis dan memakai wedges mungilku. Wedges kebanggaanku, yang sering disebut sepatu peri [ukuran kakiku cuma 36]. Wedges pilihan Babi dengan sol setebal 5 cm. Jangan tiru kebodohanku!!! Lantaran terlalu antusias, aku lupa diri. Berjalan di kerumunan manusia dengan wedges itu sama sekali nggak gampang! Aku janji, tahun depan aku akan pakai sepatu kanvas!

Benar saja, aku kerepotan dan nggak bisa mengimbangi langkah Naga yang lebar. Kami berdua berjalan dari parkiran menuju panggung hampir 1 kilometer jauhnya. Awalnya aku agak menyesal sudah memakai sepatu peri ini, tapi penyesalan itu lenyap begitu mendengar suara MC bersahut-sahutan dalam guyonan konyol berbahasa jawa. Hahaha, khas seniman. Slenge’an.

Setelah naga sibuk menelpon sana-sini, kami memutuskan untuk menghampiri teman-temannya di dekat panggung Horn di Ndalem Sopingen. Saat itu kami berada di tepi lautan manusia di depan panggung Gaog, panggung utama. Beberapa orang kawanku mengirim bbm, mengabarkan bahwa mereka ada di antara lautan manusia itu.

keramaian inilah yang akan kami tembus. Sumber: elafiq.blogdetik.com

Untuk sampai ke panggung Horn, kami harus menembus lautan manusia itu. Aku sedikit gemas melihat Naga yang masih diam dan kebingungan mencari jalan. Dengan nggak sabar, aku menarik tangannya dan nekat menerobos orang-orang. Aku tahu, aku sih sadar diri kalau aku ini kontet. Tapi aku yakin bisa, nyatanya keagresifanku membuahkan hasil. Kami berdua berhasil maju beberapa meter. Belum juga sampai tujuan, Naga menarik lenganku. Aku yang tadinya berjalan di depannya, menggandeng tangannya, kini berbalik posisi. Aku tersembunyi dibalik badannya yang tegap dan tinggi. Ganti tangannya yang menggenggam tanganku. Eh? Batinku. Apa dia nggak suka caraku membuka jalan tadi? Padahal aku membukakan jalan untuknya lho.

Insiden kecil ini terjadi dua kali. Aku berada di depan Naga, menerobos orang-orang dan Naga kembali menarikku ke belakang. Apakah ini soal harga diri? Apakah memang seorang lelaki itu gengsi kalau berada di balik perempuan? Mungkin, pikirku. Sebab Naga juga cerewet setengah mati kalau aku bilang “Kujemput aja di rumahmu”. Dia akan berteriak dan bilang, “Nggak usah! Nggak etis! Cewek kok ngejemput cowok!”. Atau lagi, kalau aku menawarkan diri menyetir paus, beat biruku itu. Aku pengen banget ngeboncengin Naga. Tapi dia selalu menyentak dan beralasan “Nggak Etis ah!”. Atau kalau aku menawarkan diri mengisi pulsa di handphone jadulnya itu. Dia selalu menolak mentah-mentah.

Hla…hla…aku bengong sendiri. Ini zaman kapan sih? Udah bukan zaman nenekku, kan?? Aku hampir saja menuduhnya kolot kalau nggak ingat komentar seorang kawan, “Naga itu orangnya gengsi tinggi.”

Oh…ini toh yang namanya harga diri lelaki?

Mendadak aku teringat komik “Married With Brondong” karya Mira Rahman & Vbi Djenggotten. novel grafis based on true story yang berkisah tentang pernikahan Bo dan Jo ini kocak banget. Jo adalah perempuan karier berumur 32 tahun, memutuskan untuk menikah dengan Bo, brondong lucu yang usianya 7 tahun lebih muda.

Ini nih novel grafis yang oke punya, recommended deh!

Kisah favoritku adalah ketika mereka berdua mempersiapkan pernikahan. Mereka saling berterus terang soal gaji. Jo, sebagai perempuan yang lebih dulu eksis di dunia karier, memiliki gaji 3 kali lipat dari Bo!! Tapi Jo sangat menghargai Bo dan mengatur keuangan rumah tangga hanya dengan uang yang diberi Bo!! So Sweet!

Pelajaran Moral:

Semandiri apapun perempuan, sekuat apapun perempuan, harus tahu diri. Harus tahu bagaimana bersikap dan mempertunjukkan sisi lemahnya pada si lelaki. Sebab, naluri lelaki memang ingin melindungi dan mengayomi. Sebab, naluri perempuan memang ingin dilindungi dan diayomi. Perempuan harus bisa menghormati lelakinya.

He….aku? kenapa aku terobsesi melindungi dan mengayomi? Nggak tahu ya :D

Senin, 19 Desember 2011

Dialog Bodoh

Aku : Hizz...menyebalkan. Cowok bermobil kok kebanyakan belagu. Sok kece, anjing ah!

Naga (sambil konsentrasi ke kertas yang sedang dia gambari) : Nggak juga. Semua cowok itu anjing.

Aku : Iya sih, bener banget.

Naga : Tapi aku anjing yang lucu. [berucap dengan spontan, dengan intonasi seperti anak TK yang bangga. Masih tetap konsentrasi menggambar]

Aku terdiam beberapa detik. Aku menoleh ke arahnya, memegang dagunya yang berjanggut.

"Lucunya anjingku ini... Leviiii....Leviiiii"



-_____-

Jumat, 04 November 2011

That's why i Love him

Memang kami kenal sudah lama, hampir lima tahun lalu. Dulu, bagiku dia cuma brondong kecil yang nggak ada istimewanya sama sekali. Secara ya, dia itu adek kelasku waktu SD dan SMU. Beda tiga angkatan. Errrr.....usia kami memang cuma terpaut satu tahun. Tapi faktanya adalah:

1. Waktu aku TK, aku terlalu pintar dan masuk ke SD setahun lebih awal.
2. Waktu Naga duduk di bangku SMU, dia asyik jadi jagoan dan harus rela pindah sekolah 3 kali. Real badboy....


Perbedaan tahun angkatan itu lah yang membuatku tenar dengan sebutan "Tante" dan Naga mendapat stempel "Brondong" di jidat lebarnya. Naiz! 


Selama hampir lima tahun berteman, aku nggak melihat ada yang istimewa dari dia. Dia benar-benar tampak sangat biasa walau banyak yang bilang dia cakep. Aku nggak tertarik sama sekali. Hanya saja, kebetulan Tuhan memberi sebuah kejadian luar biasa yang menohok keyakinanku.

Ingat? Malam itu kamu menemaniku yang kalut menunggui Babi pulang dari kantor polisi. Setengah bercanda kau bilang, 
“Cah Pluralis. Jangan-jangan kamu lupa lafal syahadat thu gimana?” 
Sahutku, “Enak aja. Masih hafal yo. Laa ilahailallah…muhammadurrasulullah..” 
“GOBLOK!! Itu kalimat tahlil. Syahadat tuh Asyhaduallaila haillallah…wa asyhaduannamuhammarrasulullah..” 
“Cuma beda asyhadu aja gitu kok” 
“Ahhh…parahhh. Jangan-jangan ntar kamu nggak bisa jawab waktu ditanya Manrabbuka?” 
“Apa itu??” tanyaku lugu. Aku benar-benar nggak ingat. 
“Astoghfirullah!! PARAH!!! Itu artinya Siapa Tuhanmu? Ditanya kayak gitu waktu bangun di alam kubur nanti.” 
DEG!!! Rasanya jantungku berhenti. Aku lupa. Aku bergidik ngeri. Apa-apaan ini? Rasanya begitu takut.
Dia menyebutku Pluralis, dan mungkin kalau dia nggak menyindirku waktu itu, aku benar-benar lupa lafadz Syahadat. Parah. Aku [yang waktu itu sedang merasa sangat sedih karena kasusnya Babi] sangat tertohok, tertonjok, apalagi dia mengatakan GOBLOK dengan sangat keras. Badboy seperti dia aja masih hafal syahadat!! undefined feelings banget!!!! Aku memang bukan seorang agamis, tapi aku juga bukan seorang atheis atau agnostik atau apalah itu. Aku ingat: terlahir muslim dan Tuhanku itu Allah SWT! Orangtuaku bisa bunuh diri kalau sampai tahu.

Dialog singkat kami malam itu mulai membuatku berpikir ulang tentang esensi keTuhanan yang pernah aku lupakan. He pull me back to our god....that's why i love him [maybe]



*Kutulis sepulang kantor. Mencoba mengingatnya, sebab pekerjaan yang beruntun membuatku nyaris lupa bagaimana rasanya rindu. eaaaaaaaaa.......


 

Kamis, 03 November 2011

His Name is "Naga"



Setiap kali buka netbuk (yang pasti untuk bekerja) dan menutup netbuk (selepas kerja) muncul pose cowok muda yang super cool itu. Namanya, hmmm.....panggil saja Naga. Kenapa Naga? Sebab aslinya aku naksir berat sama G-Dragon salah satu personil Big Bang. Boyband asal korea yang NGGAK MELAMBAI dan COWOK BANGET. pokoknya, si G-Dragon itu keren, badboy buanget. eishh....karena bingung memilih nama tokoh untuk episode kali ini, aku nekat menyebutnya "Naga". Agak norak, apalagi kalau si model sampai tahu aku mencomot fotonya dan sembarangan merubah nama panggilannya menjadi Naga, mungkin dia bisa muntah -____- tapi, ra urusan!

Kenapa Naga?
Sebab:

1. Dia super cuek. Sangat susah memintanya untuk datang. Aku harus berkeliling dunia mengumpulkan Dragon Ball, melawan monster-monster bernama "overtime", "target kerjaan", "pekerjaan rumah tangga", atau "bisnis" belum lagi di khayangan sana dia sibuk "latihan band" dan "mencipta lagu" jadi aku harus menunggu dia luang. Dia akan datang setelah ketujuh Dragon Ball terkumpul, itupun kalau kebetulan aku nggak lupa mantera pemanggilnya.

2. Dia super HOT alias mulutnya menyemburkan api. Kalau kalian cewek-cewek yang terbiasa dimanja berniat mendekatinya, dijamin hati bakal terbakar. Kalimat-kalimat yang terlontar sangat nampol, nendang, nyikut, dan menohok. Butuh hati tembok untuk bisa membersamainya selama ini. Begitulah, mana ada Naga yang jinak???

3. Dia sangat misterius. Yah, seperti kebanyakan makhluk mars lainnya. Dia bukan tipe pendongeng. Dia kerapkali diam dan membuatku sibuk bermain jari. Kalau ditanya,"Kenapa? Mikirin apa?" dia bakal jawab, "Nggak. Nggak mikir apa-apa". Aku....cuma takut dia kesambet hantu banci BI!!

4. Unpredictable. (Nggak perlu dijelaskan. Intinya, abstrak. Aku butuh waktu lebih lama untuk bisa menganalisis pola sifatnya)

5. Penuh Semangat. Namanya juga anak muda. Jiwanya begitu bergelora membawa gitar ke sana kemari. Jemarinya sampai kapalan. Setiap kali punya keinginan, harus terlaksana Mbuh pie carane (gimanapun caranya). Naga termasuk tipe ngotot. Sifat ini yang paling kusuka dari Naga.

eiiii....it's enough. Aku harus pulang kantor dan bersantai :D

*galau adl ketika aku memasang foto Naga jadi Display Picture BBM dan seorang kawan lama (cowok) langsung berkomentar, "Dia cowokmu? Apa dia ikut boyband?"