Tampilkan postingan dengan label LoveStoryAboutUs and GOD. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label LoveStoryAboutUs and GOD. Tampilkan semua postingan

Selasa, 13 Maret 2012

Undefined

Sebentar lagi April, genap setahun malam terberat dalam hidupku. Pemandangan Babi yang berlumuran darah dengan mata bengkak dan bibir sobek masih amat sangat lekat di ingatanku. Matanya yang bulat berair sejernih mata bayi, dan menggumamkan kata maaf.

Hari-hari setelah malam itu, aku menemaninya kontrol ke rumah sakit. Menunggu telpon dari Babi mengenai proses persidangan kasus penganiayaan yang menimpanya. Ya Tuhan!! Aku masih ingat dengan detail!!! Sangat mengingatnya!!

Ya Tuhan, oke...oke....masa itu sudah berlalu. Pemandangan itu sudah berlalu. Kejadian itu sudah berlalu hampir setahun lamanya. Dan aku yakin, malam itu jadi pelajaran berharga bagi kami berdua :)

Mungkin jika tak ada kejadian malam itu, aku gak akan sholat serajin sekarang. Terima kasih telah menegurku, Tuhan.

dan semoga dia semakin rajin ke gereja, nggak lagi bolos misa....

Senin, 27 Februari 2012

februari 2012,

Februari, lalu Maret, lalu April....

Sebentar lagi tepat setahun kejadian menyakitkan itu. Aku masih sangat ingat muka Babi yang babak belur, berdarah-darah. Aku masih ingat, betapa paniknya aku saat turun ke dapur, memecah es batu sambil menahan tangis. Aku membungkus bongkahan es batu, membawanya naik ke sofa depan, lalu mengompres lukanya. Di depan Babi, aku nggak boleh menangis. Aku bahkan memaksakan diri untuk tertawa.

Aku ingat, beberapa minggu setelahnya aku seperti orang bodoh. Bolak-balik Kota Barat, duduk di samping Babi sementara teman-teman kami bergiliran mengunjungi Babi yang memang sengaja dikurung di rumah demi keselamatan dirinya. Aku ingat, aku jadi sangat sering ke rumahnya. Dan aku nggak boleh menangis, nggak boleh terlihat lemah, padahal setiap tamu yang datang menjenguk Babi selalu menanyakan kronologis kejadian menyakitkan itu. Aku memaksa diri untuk nggak menitikkan air mata saat mendengar Babi menuturkan semuanya.

Malamnya, ketika aku sendirian di kamar kost, atau di rumah Sahabatku Muk, Husky (yang waktu itu masih menjadi temanku) menelpon untuk sekedar mendengarku menangis lama. Bulan yang berat sekali, tapi sama sekali nggak merubah perasaanku ke Babi.

Entah sejak kapan, aku mulai berbaik sangka pada Tuhan. Putus asa? entah apa namanya. Ikhlas? Undefined lah... Aku ingat Ayah yang bersumpah nggak akan merestui pernikahanku kalau sampai aku menikah dengan seorang non-muslim. Aku sendiri nggak punya keberanian untuk itu. Hey... menikah bukan perkara mudah. Sholat sendirian dan nggak bisa menemani Babi ke gereja menciptakan kegetiran tersendiri. Sakit. Dan menjalaninya seumur hidup? Aku nggak mau. Mengecewakan Ayahku? jelas aku nggak mau. Aku cinta Babi, tapi aku lebih cinta Ayahku.

Entah sejak kapan, aku yakin Tuhan akan menjaganya. Sebab Tuhanku, meskipun ia tak menyembahNya, adalah Tuhan yang baik. Mana ada Tuhan jahat pada hambaNya?? Yang ada hanyalah keterbatasan otak manusia untuk mencerna kompleksitas kasih sayangNya.

So, kalaupun aku masih suka menangis, atau Babi yang masih begitu tak terima atas perlakuanku padanya dan membenciku, aku cuma bisa berdoa semoga kami, manusia, diberi kesadaran bahwa semua yang Dia takdirkan adalah demi kebaikan kami. Semoga kami berdua lekas mengerti dan menerima.

Aku memutuskan berpisah bukan karena masalah agama. Ini bukan tentang agama, tapi keyakinan. Sebab aku meyakini, bahwa aku membutuhkan Imam baik dalam sholat maupun berumah tangga.

Kalau Babi masih rajin ke gereja, semoga dia juga menemukan pendamping yang baik saat misa. Atau apalah, terserah Tuhanku YME.

Rabu, 21 Desember 2011

Ke Surga Naek Sepeda


by Black Dandelions on Wednesday, November 17, 2010 at 4:18am


Suatu sore di angkringan belakang lembah UGM...dua orang bego minum es teh sambil saling memukul dahi.

Babi : aku punya cerita. Ada 2 orang pria yang baru saja mati. Keduanya dihampiri malaikat penjaga kubur. Si Malaikat bertanya pada pria A "kamu menikah berapa tahun dan berapa kali kamu selingkuh?" jawab Si A "Aku menikah selama 30 tahun dan selingkuh 3 kali" lalu kata Si Malaikat, 'Oke, kamu kuberi kijang innova untuk pergi ke surga"

Aku : Terus? Yang B??

Babi : Si Malaikat mengajukan pertanyaan yang sama ke pria B. Si B menjawab "Aku menikah selama 50th dan tidak pernah selingkuh" lantas Si Malaikat memberinya sebuah ferarri.

Dalam perjalanan, Si A mendapati pria B berhenti dan menangis dalam ferarriny. Si A bertanya "Kenapa menangis wahai sahabat?" Si B menjawab dengan nada pilu '"Barusan aku melihat istriku berangkat ke surga naik sepeda. Hhuhuhuhu."

Aku terdiam. Mencerna agak lama dan kemudian tertawa sambil menjitak kepala Babi. Setelahnya, kami berpulang ke rumah masing-masing. Cerita di atas seperti cerita Babi yang sangat idiot setia sm satu cewe playgirl yang hobi gonta-ganti pacar [sopo yo??hhaha]. Dalam perjalanan, sambil mengendarai pausku yang bersih dalam kecepatan sedang, terlintas dalam pikiranku sebuah statement konyol.

Sesampainya di rumah, aku kirim SMS untuk Babi "Ndud...NAEK SEPEDA LEBIH SEHAT LHO DARIPADA NAEK FERARRI...WAHAHAHAH"

Selasa, 08 November 2011

Doa Seorang Anak dan Tamiya

Tulisan lawas, sebuah pelajaran hidup dari Babi.


by Black Dandelions on Wednesday, May 12, 2010 at 9:43pm


Suatu hari beberapa minggu lalu, aku mewek seperti bebek bercucuran air mata. nggilani sekali. Mataku sembab dengan pipi yang basah dan bibir tekuk menekuk. Menangis berhari-hari karena kehilangan. Aku sholat malam dan berdoa terus menerus supaya 'yang hilang' itu kembali padaku. aku lupa kapan tepatnya, tapi Babitampan ada di dekatku dan tiba-tiba berkisah tentang doa...dia berkisah tentang doa seorang anak yang ikut lomba tamiya...

Babitampan tanya, "Kamu kalo berdoa ma Tuhan bilang gmn?"

Kujawab, "Contohnya nih: ya Allah...kasih aku motor baru..." ya pokoknya yg SPESIFIK begitulah.

Kemudian dia bilang, “Aku punya cerita. suatu hari ada seorang anak yang ikut lomba tamiya. tamiya milik si anak itu biasa aja dan ngga secanggih lawan-lawannya. ketika akan mulai, pada hitungan ke dua, si anak berteriak 'tunggu!!' kemudian dia ambil tamiya nya dan komat-kamit sendirian. setelah itu dia taruh tamiyanya dan mulai bertanding. seperti perkiraan, tamiya si anak tertinggal...tapi ternyata di putaran terakhir, tamiya si anak tadi menang. sungguh di luar dugaan...si anak tadi girang bukan main.

bapak-bapak juri kemudian bilang pada si anak 'bersyukurlah kau,nak. Doamu di dengar Tuhan'

lalu di jawab si anak, 'saya ngga berdoa semoga menang kok,pak'

bapak juri heran, 'hlo..terus kamu berdoa apa?'

jawab si anak, 'saya tadi berdoa ..Ya Tuhan..JANGAN BIARKAN SAYA MENANGIS KALAU SAYA KALAH YA..'”

wkwkwk....selesai ceritanya. Aku tanya sama si Babi, siapa anak lucu yang berdoa begitu?

jawabnya : RAhasia

Hahahha..sejak itu aku mengganti doaku...Percaya saja bahwa Tuhan selalu memberi kesempatan hambaNya untuk berusaha sesuai kemampuan dan Memberikan jawaban Doa yang tak terduga...Tuhan Maha Pengasih dan Penyayang... :))

* maaph bi kalo adda yg salah...Lupiing ni :p

Senin, 19 September 2011

Waiting for the End

06082011 09.15 WIB

Yak, mati listrik sepagi ini dan kerjaanku nggak akan beres kalau nggak ada listrik. Untungnya, aku sudah sempat mendownload lagu ‘Kekal’ yang dinyanyikan Homogenic. Nice song! Aku jatuh cinta pertama kali pada lagu ini ketika menonton film cin[T]a. So, lagu ini menjadi satu-satunya lagu di winamp listku hari ini. Suka, sangat suka. Sebab mendengarnya, seperti menonton ulang film cin[T]a.

Sekitar dua satu setengah tahun lalu adik laki-lakiku datang dari Solo, menyodorkan sebuah flashdisk.

“Film keren banget, tentang arsitektur sih. Tapi cocok buat kamu. Film doktrin nih, pluralis,” katanya.

Aku tahu, meski aku hampir tak pernah curhat sambil berderai air mata, saudara kandung yang merebut jatah ASI-ku itu sangat memahami dilema jiwaku. Ehmm…kalau boleh dibilang begitu. Faktanya memang aku nggak pernah beruntung setiap kali menjalani hubungan istimewa —bahasa kimcilnya, pacaran— dengan lelaki. Selalu saja kandas dan hampir semua mantanku menjadikan Babi sebagai alasan. Cowok putih jangkung, dan Katholik.

“Tonton film ini,” beberapa teman juga merekomendasikan film yang sama untukku. Kupikir, aku menyukainya. Ini lebih baik daripada harus memukulku dengan helm begitu tahu aku punya pacar non-muslim. Ini lebih baik daripada menjodohkanku dengan seseorang yang tak kukenal. Aku memang butuh pencerahan, bukan paksaan.

Singkatnya, film ini berhasil mendoktrinku. Mungkin terasa sedikit berlebihan, sebab sejak awal aku bukan seorang pluralis yang menghalalkan pernikahan beda agama. Tapi beberapa teman menuduhku, mengkhawatirkanku, mencemaskanku.

“Kamu sayang Tuhanmu, atau makhluk ciptaan Tuhanmu?” (pertanyaan yang kuanggap bodoh karena jelas aku memilih Tuhanku)

“Kamu disuruh milih antara Tuhan atau dia.” (komentar yang nggak masuk akal)

“Kubunuh kamu kalau kamu sampai murtad.” (sahabat cowokku berkata dengan gaya keji)

“Sampai kamu pindah agama, aku nggak akan kenal kamu lagi.” (sebuah ancaman yang emosional)

“Kamu kenal dia berapa tahun? 5 tahun? 6 tahun? Orangtuamu sayang sama kamu berapa tahun? 22? Sebanding gitu?”

“Pindah agama karena pencarian sih aku tolerir. Tapi kalau pindah agama cuma karena pacar, tolol namanya. Iman kok buat mainan.”

“Apa adil mengejar kebahagiaan pribadi dan menyakiti lebih banyak orang? Keluarga besarmu? Apa nggak egois namanya?”

Aku bangga sekali punya teman-teman yang kritis dan walaupun terlihat brengsek, kuakui mereka beriman. Aku yang merasa masih bocah hanya bisa berdalih ‘Siapa yang tahu masa depan. Jalani aja, kalau toh jodoh pasti ada jalan.”

Tapi ternyata aku bisa lelah juga menjalani hubungan di zona nyaman dengan Babi. Dengan sikap super cueknya yang mendewasakanku, dengan sikap sabarnya yang mengajariku banyak hal, dengan sikap setianya yang selalu membuat hati ngilu, semuanya terlihat perfect. Kecuali satu hal, keyakinan. Cuma itu satu-satunya permasalahan dalam hubungan kami tapi sungguh sangat fundamental. Kami hampir tak pernah bertengkar, apalagi hanya karena masalah sepele. Untuk masalah cemburu, kuakui, sikap cueknya justru terasa sangat dewasa bagiku. Kami cocok satu sama lain. Dia bahkan bisa menjadi inspirasiku dan tokohnya berhasil memperoleh beberapa fans. Pemikiran logisnya yang sangat mendominasi diskusi-diskusi kami menjadi pelajaran berharga buatku. Sampai akhirnya, pemikiran logis itu pula yang membuatku memutuskan untuk berpisah.

Kami bisa saja nekat meneruskan semuanya dan bersabar menunggu sampai happy ending. Tapi, benar kata salah seorang sahabat kami ‘Apa lantas kamu mau membuang bertahun-tahun waktumu untuk sesuatu yang benar-benar samar? Sementara seharusnya kamu bisa mendapatkan banyak hal dari waktumu itu?’ dulu, aku berkelit, “Nggak ada yang sia-sia. Ini salah satu pembelajaran. Belajar toleransi.”

Pernah kudengar ceramah seorang ustadz (aku lupa di mana aku mendengarnya yang jelas hanya sepintas lalu. Sebab aku belum cukup sadar diri untuk datang ke pengajian), ’Rejeki dan jodoh tak perlulah kalian pusingkan. Keduanya sudah disiapkan olehNya. Kalian fokuslah memperbaiki diri kalian sendiri. Yakinlah, Dia sudah menjamin.’

Sedih? Itu pasti. Sakit? Jelas. Tidak bisa menikah dengan orang yang kita sayangi sudah cukup miris, apalagi jika sebenarnya kalian berdua benar-benar saling sayang. Berat memang, awalnya sangat berat. Tapi memang seperti inilah hidup. Nggak semua yang kita inginkan selalu jadi kenyataan. Tuhan punya rencana yang lebih baik yang tak sanggup dimengerti oleh otak terbatas manusia. Manusia cuma bisa menduga-duga dan mencoba percaya. Selalu berbaik sangka pada Yang di Atas. Aku yakin dan aku percaya dia juga yakin pada Tuhannya. Aku yakin dia, kami, akan baik-baik saja. Aku percaya pada akhirnya kami akan bahagia dengan takdir masing-masing.

Aku kuat dan dia juga lelaki kuat.


Kutipan di atas adalah jawaban kuis facebook yang dia ikuti. Cukup merepresentasikan pendangannya terhadapku. Aku suka, dan bangga karena di matanya, aku sudah jadi seorang wonder woman. Marilah menjadi lebay: Saat ini kami berdua ada di tepian jurang. Jurang besar itu bernama keyakinan. Dia akan segera melepaskanku, dan aku memang sengaja melepas genggamannya. Aku akan terjun bebas dan merangkak ke daratan seberang. Perkara luka dan cidera yang kudapatkan, aku yakin masih bisa sembuh. Dia pun begitu.

Lalu, meski kami akan berjalan berdampingan di sisi yang berbeda. Memang bukan lagi BoyFriend, but we’re best friend now 
 
Desember 2006

*Menunggu waktu untuk ikhlas



Jumat, 16 September 2011

Cerita Bangun Tidur- part 5


Masih ingat Daffa Alalika? Muridku yang ganteng dan manis itu semalam berulang tahun. Ulang tahun keenam dan dirayakan secara sederhana. Hari itu, Kamis, 17 Maret 2011, hujan turun dari sore. Rintik-rintik air jelas membuatku bergegas pulang ke kost. Apakah ada yang lebih indah selain sore gerimis, bergulingan sambil bermain double kick, spesial punch dan ‘kitik-kitik sampai mati’ sama Babi? Terserah kalau ada yang bilang kami kekanakan, tapi tertawa sepanjang sore benar-benar melepas lelah. Walau berkali-kali Babi memegang jidatnya karena pusing kuhantam pakai kepala. Haaa….rasanya waktu berjalan begitu cepat.

Sebuah SMS masuk dari Mamahnya daffa,
‘Kalo ujan nggak usah datang gpp,mbak. Biar nggak sakit lagi.’

Kubalas:
‘Daffa gimana? Daffa taunya aku datang apa nggak,mbak?’

Balesannya lagi:
‘kalau soal Daffa, ntar bisa dikasih pengertian kok. Kue bagian mb Aya ntar disimpen dikulkas. Hhehe’

Aduuuh…..artinya Daffa ngarep Aku datang kasih ucapan selamat dan cium pipi. Terakhir kali aku nggak ngajar, dia ngambek. Daripada ngambek, datang aja deh. Nembus ujan-pun tak apa, pikirku.

Acara ultah Daffa dimulai jam setengah8. Dan aku belum beli kado, lebih tepatnya lagi belum tahu mau beli kado apa.

Aku bilang ke Babi, ‘aku beliin DVD aja deh. Soalnya pasti potong kue. Kalau aku kasih hadiah kue, bakal aneh’
Babi       : Iya. Dibeliin film Animasi aja, Ndud
Aku        : Apa ya?
Babi       : Guardian Owl. Bagus itu.

Percakapan kami lanjutkan di atas motor, melaju di sepanjang jalan gejayan yang masih basah. Babi yang nggak mau basah akhirnya memakai mantel, terlihat seperti Teru Teru Bozu raksasa. Idiot, dia memakai mantel lengkap dengan tudungnya. Hari seperti ini, apa ada cowok muda yang rela memakai mantel dengan cara norak begitu?? Aku aja ogah kalau bukan hujan badai.

Aku        : Guardian Owl bagus pho, ndud?
Babi       : Bagus. Ceritanya tentang perang. Jadi, burung gagak….
Aku        : owl itu burung hantu (spontan menyela)
Babi       : iya maksudku itu. Burung hantu, perang-perangan gitu deh.
Aku        : Pake senapan mesin?
Babi       : Enggak.

Sesampainya di toko CD (aku lupa namanya. Toko CD besar di pertigaan Gang Guru), si Penjaga tertawa mendengar judul ‘Guardian Owl’ mbaknya mengangsurkan sebuah DVD, Aku memandanginya sepersekian detik lantas menoleh ke Babi yang asyik melihat-lihat CD.

Aku        : Judulnya the legend of Owl, idiot…

Aku bersyukur sekali. Sangat-sangat bersyukur punya Babi, yang selera film-nya OKE banget untuk anak umur 6-12 tahun. Beberapa pekan lalu, dia datang ke kost bawa laptop.

Babi       : Nonton film aja y,Ndud.
Aku        : mau…mau…mau..

Aku sangat antusias melihatnya menyalakan Laptop. Tetapi sedikit shock ketika dia mulai memilih film. Doraemon: Nobita’s Great Battle of Mermaid King.

Aku        : Tontonanmuuuuu, Ndud!!! Nggak mutu banget…..
Babi       : Heh, film-film kayak gini bagus ya. Ada nilai yang mendidik. Aku besok pengen bikin film Animasi anak-anak yang edukatif.

Aku diem sambil memeluk Cipo. Iya, Babi suka CJ7, wall-e, naruto, 9 (nine), dan banyak judul lagi yang nggak mau kutonton. Film kartun atau animasi itu membosankan buatku. Aku lebih suka film-film psikologi yang rumit. Tapi film psikologi macam He Loves Me-He loves Me Not, Beautiful Mind, Number 23  dan Uninvited masih lebih bermutu dibanding film Slasher macam Hallowen dan Texas Chainsaw Massacre. (buat kau yang suka nonton film Slasher macam ini, jangan tersinggung. Dulu aku mau nonton film seperti ini karena terpaksa menemanimu).

Buat siapapun yang kelak jadi anaknya Babi, ‘Kau beruntung sekali, Nak. Ayahmu punya selera bagus dalam memilih film.  Ayahmu punya cita-cita mulia untuk membangun dan menjaga karakter anak-anak.’

Ps : Aku ingin sekali membuat penelitian tentang ‘Dampak psikologis Film Slasher dan Film Animasi Petualangan Terhadap Perkembangan Pola Pikir Serta Tingkah Laku’. Oke, kapan-kapan sajalah. Belum sempat. Oh iya, Daffa senang sekali dengan kado pemberianku. Untung aku nggak jadi bawa kue, sebab semalam, kue Ultah Daffa BESAR BANGET. Aku dikasi potongan besar yang membuatku mblenger….coklatnya kegedhean T.T

18 Maret 2011

Jumat, 12 Agustus 2011

Dini Hari di McD

Dini hari tadi, 8 september2010, sekitar pukul 3, aku dan Babi memutuskan untuk pergi sahur di McD Sudirman. Aku duduk di tenda luar menatap pemandangan jalan raya yang lenggang. Aku duduk memandangi jembatan kewek, sepertiny di sana aku pernah punya kenangan. Sepertinya aku pernah duduk di sana dengan seorang pria, dengan dua botol mixmax, bir, dan dua bungkus rokok. Di tepi jembatan kewek yang menghadap ke selatan,di sana aku punya kenangan...pun di sini, di tempat aku duduk, ada kenangan tentang ulang tahun seorang lelaki, dengan nasi ayam dan es krim...

Lamunanku buyar ketika Babi datang membawa burger, kentang dan pepsiku. Aku mulai ngemil dan bercerita tentang kenangan tempat duduk yang sedang kududuki. Kubilang, “Tau rasany sesak?? Serangan sperti ini datang tiba-tiba gak diduga. Kapanpun di manapun.”

babi : “Dikontrol donk.”

aku : “Kamu gak tahu rasanya.” [jawaban paling klise]

babi : “Apa perlu aku nyakitin kamu, bikin kamu sakit hati biar kamu bisa lupain Paijo?? Biar kamu selalu inget aku...km selalu bisa mengingat orang-orang yang nyakitin kamu.”

Aku berhenti makan kentang. Bengong....aku gak bisa membaca ekspresi Babi waktu itu. Tapi pertanyaan terakhirnya membuatku sadar, betapa manusia itu egois. Lebih tepatnya, aku egois. Aku sibuk mengeluh tentang rasa sakitku, sibuk menjelajah malam dengan alasan menghilangkan pilu, terlalu sibuk mengeluh dan mengeluh sampai gak sadar kalau teman-temanku berusaha melucu, berusaha membuatku ketawa, berusaha membawaku ke dukun, cari hipnotis, dan Babi terus-terusan melakukan apapun permintaanku.

Aku pikir, betapa manusia kerapkali menutup mata dan enggan bersyukur. Betapa sempitnya hati manusia, betapa sombongnya, sehingga melewatkan kebahagiaan begitu saja. Sombong tentu saja, karena seolah-olah manusia tahu kebahagiaan yang paling tepat, dengan seenaknya mengatakan “aku tak akan bahagia jika....” padahal Tuhan lebih tahu.

Akhirnya kami beranjak pulang, Babi mengambil motornya sementara aku membersihkan paus [motor biru kesayanganku] dengan lap. Ketika itu adzan subuh berkumandang, aku melihat seorang gelandangan merogoh tempat sampah, tempat di mana aku tadi membuang sisa makan. Begitu ngilu, seharusnya gelandangan itu lebih pantas mengeluh daripada aku yang bisa makan kentang dengan orang yang sangat menyayangiku....

bukan Madman-nya Nietzsche

Madman berkata : ketika tuhan-tuhan kita duduk melingkari cangkir-cangkir kopi....aku mengkhawatirkan kediamanmu...

aku lupa sejenak tentang perjudian tuhan-tuhan kita..

aku sibuk..menata rautmu yang tak lagi bahagia...

sementara tuhan-tuhan kita masih bercengkrama dengan cangkir-cangkir kopi. menonton dua sejoli yang dipertaruhkan atas nama iman (18.07.2010)


sayang...kau dimana? aku sangat berharap, tidak menemuimu sedang bercengkrama dengan Tuhan. Duduk berdua dengan meja bundar di tengah..aku enggan menemuimu di situ... tinggalkanlah kopi-kopi itu..biarkanlah dingin...menjauhlah sebentar dari Dia..aku hanya ingin bercakap..berdua saja..ttg cinta..tanpa Dia (20.07.2010)

ada yg menjawab : hari ini aku tidak pergi ke gereja -ini suatu sore di hari minggu-, karena kau bilang ingin berdua saja. tapi haruslah kau ingat..bahwa cinta ini dari Dia (25.07.2010)

Aku berusaha membersihkan noda kopi yg terjatuh di atas lembar-lembar wahyuMu...membersihkan sementara Kau terus menumpahkan...sampai pekat dan rasanya tak sanggup...(27.07.2010)