Tampilkan postingan dengan label Hobby: Read and Write. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hobby: Read and Write. Tampilkan semua postingan

Senin, 20 Februari 2012

Strategi Promosi Buku yang Unik dan Menarik

Iseng menyiapkan bahan untuk website kantor, aku menemukan video review buku yang diupload oleh salah seorang penulis. Aku menontonnya, siapa tahu aku punya ide untuk tulisanku selanjutnya. Well,secara teknis, aku suka video ini. Walaupun secara tema, nggak gue banget lah! Buku bertema percintaan terlarang dan pastinya menye-menye.

Sedikit menjelaskan, si penulis adalah seorang penulis newbie yang menerbitkan bukunya secara self publishing dan itu berarti dia tak mendapat support dari penerbit untuk mendistribusikan karyanya. Review buku dengan video macam ini sangat menarik dan pantas dicoba.

       

ada satu lagi nih...


Rabu, 18 Januari 2012

Lila Lila: Love story, books, writers, and publisher

German Cinema, 17-19 Januari 2012. Aku sudah mendengar beritanya minggu lalu. Dan salah seorang rekan kerjaku sudah berhasil reservasi tiket. Aih, entah apa yang terjadi padaku saat itu sehingga aku tak antusias mengikuti event tersebut. Tapi Tuhan mentakdirkan aku untuk ada di sana, semalam, 18 Januari 2012.

Setelah dihantam rasa penat karena ratusan naskah bertema patah hati, merasa jenuh, dan kram otak, Tuhan mengirimkan utusanNya yang manis. Kea, sahabatku, menawarkan tiket nonton Film berjudul “Lila Lila”. Hari itu, aku haid hari pertama dan jelas perutku mules nggak karuan. Lapar sih, tapi malas makan. Walhasil, aku membeli sekotak besar popcorn asin dan segelas besar cola. Pokoknya harus nonton! Udah berapa lama aku melewatkan banyak festival hanya karena alasan ‘sibuk kerja’.

Kea emang sahabatku yang paling Te O Pe deh! Dari sekian tiket yang dia punya (dia marathon film dari siang selama tiga hari berturut-turut!) dia memberiku tiket “Lila Lila”. Seolah mencoba mengembalikan kenangan akan ambisi kami semasa SMA dulu. Tentang hobi menulis dan obsesi tembus penerbit mayor yang sekarang terbengkalai.



Film ini bercerita tentang David Kern, seorang waiter yang jatuh cinta pada mahasiswi sastra. Awalnya, David dipandang sebelah mata oleh Marie. Sampai akhirnya, David menemukan naskah dalam buffet mini yang dibelinya di pasar barang bekas. Demi mendapat simpati dari Marie, David memulai berbohong. Dia mengklaim bahwa naskah berjudul “Shopie Shopie” yang bercerita tentang percintaan terlarang di era 50an itu adalah karyanya. 

Marie sangat terkesan dan mengirimkan naskah tersebut ke penerbit. Nggak disangka, naskah yang kemudian diganti judul menjadi “Lila Lila” itu meledak di pasaran. David menjadi terkenal. Kehidupannya membaik. Fansnya mulai dari kalangan tua sampai remaja. Dirinya menjadi rebutan para agen dan penerbit-penerbit besar di Jerman. Saat itulah, muncul sesorang tua bernama jacky yang mengaku sebagai pemilik asli naskah tersebut. David mulai hidup dalam tekanan, antara tuntutan untuk mempertahankan Marie (yang jatuh cinta pada ‘karya’nya itu), keinginannya untuk menghentikan semua sandiwara ini, dan Jacky yang terus berusaha mengeruk keuntungan finansial darinya. 

Totally, film ini bagus dan membuatku ngiler. Ah, display toko buku yang asyik. Acara pembacaan buku oleh si penulis. Pestanya para editor dan agen penulis membuatku mupeng. Kapan ya dunia literate Indonesia bisa seramai Jerman? Kalau kata rekanku sih, di Jerman sana, Buku jauh lebih romantis daripada bunga. Anak kecil umur 5 tahun sudah fasih membaca dan dibelikan banyak buku oleh orangtuanya. Mereka banyak menghabiskan waktu dengan membaca, di dalam kereta, di taman, di restoran. Kalau di sini? Di Indonesia? Kemana-mana pegang blackberry kali ya (nyindir diri sendiri)? Hihihihhihii




Rabu, 16 November 2011

Kalau bukan penulis mana bisa jadi editor???

“Haruskah D3/s1?? Yang diutamakan dlm kreatifitas adlah mngerti EYD...kalau bukan penulis mana bisa jadi editor....logikanya dimana?”

Kalimat yang berantakan itu mampir si sebuah status Fb sebuah Penerbit Besar di Jogja yang sedang membuka lowongan editor. Kalimat itu terasa agak sinis dan menyebalkan, terutama kalimat terakhir “Logikanya dimana?” Sangat mengganggu untuk seorang editor (freelance) sepertiku.

Baiklah, mari kita bahas satu persatu.

a.       Haruskah D3/S1??

Kualifikasi yang dibuka untuk editor memang min D3/S1. Sepertinya hampir di semua penerbit mematok standar yang sama. Malah ada beberapa penerbit yang secara spesifik meminta jurusan tertentu seperti Psikologi. Baiklah, mari kita pahami dulu apa sebenarnya editor itu?

Editor (sepanjang pengetahuan saya yang belum genap setahun nyemplung di dunia penerbitan) adalah seseorang yang bertugas menyeleksi naskah, menyunting (edit aksara, EYD ataupun konten), dan menerbitkannya. Susah? Jelas.  Seorang editor dituntut untuk PEKA, punya SELERA TINGGI dan yang jelas JELI melihat pergerakan pasar. Nggak sembarang orang bisa jadi editor. Itulah yang ada dalam benak saya.

Saya bukan seorang ektrimis akademik yang mendewa-dewakan gelar Sarjana. Buat saya pribadi, pengalaman jauh lebih berharga daripada transkrip nilai. Saya sudah membuktikannya. Mantan Pimpinan Redaksi saya (dan pernah menjadi editor), hanyalah seorang lulusan SD. Tapi dia (yang umurnya cuma setahun lebih tua) bisa benar-benar cerdas dan membuat saya yang bergelar S.S merasa malu dengan sepak terjangnya. Dia malang melintang di beberapa komunitas penulis di beberapa kota dan penerbit. Namanya berkibar dan nggak susah untuknya mencari pekerjaan sebab yang datang padanya adalah penawaran. Look!

Berkaca pada Mantan Pimred saya itu, saya setuju untuk menghilangkan kualifikasi D3/S1. Namun kemudian sebuah kalimat menyentil saya. “INI INDONESIA”. Ada berapa persen orang yang mau mencerdaskan diri sendiri dengan belajar otodidak?? Sarjananya saja dicetak dengan uang (masuk univ terkenal pakai uang pangkal super besar), dan lulus dengan kualitas SDM pas-pasan.

Yah, menurut saya, kualifikasi itu tetap perlu. Sebab INI INDONESIA a.k.a ENDONESIA pake ‘E’. Pesimisme berlanjut defensif berlebihan sangat dibutuhkan. Sarjana-nya aja banyak yang nggak kompeten.  Memang, banyak karyawan pribumi yang sukses di perusahaan. Eh, tapi lihat perusahaannya, Ownernya orang asing! Miris!

So, intinya, kualifikasi itu tak perlu dihilangkan. Bukannya nggak memberi kesempatan pada orang-orang yang nggak berpendidikan formal, tapi ini dimaksudkan untuk memotivasi mereka agar mau berusaha lebih keras lagi. Kalaupun pahitnya kualitas SDM Endonesia anjlok di mata internasional, pemerintah kita akan mulai memberi perhatian lebih pada dunia pendidikan. Ehm…itu kalau mereka masih punya nurani sih.

b.      Kalau Bukan Penulis Mana Bisa Jadi Editor….Logikanya dimana?

Wah, kalau bahasan ini sih, saya cuma mau bermain opini. Kalau bukan penulis, mana bisa jadi editor?? BISA DONK. Malah lebih mampu, sebab seorang editor melihat karya dari luar dalam, dari jarak dekat maupun kejauhan. Beda dengan penulis yang melihat karya dari dalam.  

Jelas beda dan nggak bisa disamakan. Seorang penulis nggak akan bisa melepaskan diri dari sifat subjektif (sangat manusiawi dan bisa dimaklumi), sementara seorang editor dituntut (dan memang bisa) bersifat objektif. Kenapa? Sebab sekali lagi, editor memandang karya sebagai sesuatu di luar dirinya. Menurut saya, seorang editor memang wajib menguasai gramatikal maupun trend berbahasa tapi tidak perlu mempunyai kemampuan menulis.

Ektrimnya lagi, editor memposisikan diri sebagai konsumen alias pembaca. Dia akan memilih naskah, mengkoreksinya sedemikian rupa sehingga jadi bacaan yang nyaman dan mengasyikkan. Jelas, kan. Logikanya, nggak perlu jadi penulis untuk bisa menilai mana tulisan yang bagus mana yang enggak.