Finally, i'm home.....hahha
karena deadline yang mendesak dan sakit demam yang tak kunjung turun, aku
memutuskan pulang ke surga. Surga buatan Ayah. Rumah tengah sawah dengan suara
gemericik air di kolam tengah. Rencanaku simpel, pulang ke rumah―tempat
di mana selalu ada makanan―bekerja di bekas kamarku yang sejuk, selesai, lalu pulang
ke kota. Tapi ternyata aku belum menulis apapun sampai detik ini. Wahahaha, aku
malah bernostalgia tentang sejarah rumah ini.
Tahun 2006 lalu, saat aku sedang
menganggur karena ‘apes’ diterima di UGM lewat jalur Ujian Masuk ―yang
berarti cukup lama menunggu untuk mulai masuk kuliah karena yang lain masih
harus UMPTN―datanglah
bencana itu. Gempa bumi. Yap, saat itu kami sekeluarga masih menempati rumah
jelek di pinggir jalan solo dekat Hotel Jayakarta. Pagi buta itu kami sangat
panik. Terutama karena Ayah sedang berada di Jakarta. Pemukiman padat penduduk
dan tembok retak serta rumah tetangga yang ambruk rata dengan tanah jelas membuat
kami trauma. Aku ingat, waktu kami panik dengan isu tsunami, aku, ibuku, dan
tiga adekku bergegas pergi membawa map dokumen berharga, laptop dan melaju
dengan dua motor. Ikut arus. Sementara mobil kami tinggal begitu saja di
garasi, komputer, dan barang elektronik lainnya kami tinggalkan. Beruntung, tak
hilang dijarah.
Sekembalinya Ayah dari Jakarta,
Beliau dan kami sekeluarga langsung sibuk dengan agenda masing-masing. Ayah
sibuk mendistribusi bantuan dan mengurus rekonstruksi masjid yang hancur di
pedalaman Bantul. Aku melihat tumpukan dokumen Muslim Helfen Germany dan
beberapa NGO lainnya. Sementara Si Nomor 2 menjadi relawan di sekolahnya. Si
nomor 3 dan Si Nomor 4 yang masih kecil ikut membungkus makanan di Dapur Umum
setiap hari. Aku yang berlabel pengangguran akhirnya ikut Ayah blusukan ke Bantul. Bagian dokumentasi
tentu saja.
Baru setelah tanggung jawab Ayah
selesai, beliau mulai memandang penting ke arah retakan tembok di rumah jelek
kami. Retak yang cukup mengerikan. Lalu dengan penuh kerelaan, Ayah mulai
mendesain sebuah rumah. Rumah agak besar, di tengah sawah. Yup, sebenarnya Ayah
sudah membeli tanah di pedalaman Kalasan. Tanah itu dibiarkan kosong
bertahun-tahun lantaran Ayah terlalu sibuk untuk mengurus pembangunan rumah.
Wihihiihii...Anak-anaknya diberi hak untuk mendesain sendiri tempat tidurnya.
Ayah cuma menyediakan kayu jati glondongan. Haseek.....aku mendesain dua tempat
tidur dan menawarkan salah satunya pada adikku.
Ayah membuat desain rumah yang
aneh. Aneh karena nggak jelas mengadopsi gaya apa. Sepintas lalu, rumah kami
terlihat seperti rumah tradisional. Ayah mengaplikasikan dinding bata dengan
dua tiang besar penyangga di teras. Ayah memilih pintu kayu dengan ukiran
minimalis sebagai pintu utama. Lucu adalah ketika Ayah benar-benar bisa
meluangkan waktunya untuk berburu batu kali berwarna putih kecoklatan sampai ke
luar kota. Batu-batu kecil seukuran satu kepalan anak usia tiga tahun itu
beliau gunakan untuk melapisi tembok. Bisa bayangkan bagaimana pak tukang kami
adalah seorang yang sangat sabar dan telaten? Menempel batu-batu kali satu
persatu di tembok besar setinggi hampir lima meter? Makasih Mas Santo, mandor
sekaligus tukang kami yang baik hati merealisasikan mimpi Ayahku. ^^
![]() |
dinding putih yang dibuat dari batu kali kecil-kecil... |
Selain berburu batu kali sampai
Kebumen, Ayah juga berburu bongkaran gedung lawas peninggalan belanda. Akhirnya
Ayah berhasil memboyong beberapa jendela super besar dengan ukuran 2x3 meter
dari bongkaran kantor PLN. Beliau memasangnya di setiap kamar anak-anak yang
menghadap ke taman depan. Dan demi keselamatan, beliau memasang teralis. Ah,
ya, mungkin agar anak-anak berhenti berpikiran untuk keluar-masuk kamar melalui
jendela yang lebih tepat dibilang semi-pintu itu.
![]() |
ini wujud jendela semi-pintu bekas Bangunan Belanda |
Ayah membangun dua kolam. Yang
pertama, di bawah teras depan. Beliau mengisinya dengan ikan bawal karena
banyak sekali anak kecil yang berkunjung ke rumah berniat memancing ikan-ikan
koi cantik peliharaan Ayah. Dan terpilihlah si bawal untuk jadi korban mainan
anak-anak. Koi peliharaan Ayah ditaruh di kolam tengah, bersanding dengan dua
kura-kura tua yang kami pelihara sejak masih bayi sampai sekarang sebesar dua
telapak tangan orang dewasa. Ralat, dulu kami pelihara dua, tapi yang satu
jalan-jalan entah kemana. Menghilang begitu saja. Akhirnya Ibuku membeli satu
lagi kura-kura besar untuk teman. Namanya? Ah aku lupa, bukan aku yang kasih
nama. Hehehe....Ibuku hampir berhasil membuatku percaya kalau si kura-kura yang
hilang itu kembali ke rumah.
![]() |
si kura-kura.....yang lagi berjemur itu namanya "Kura" yang paling lama *barusan tanya adekku... |
Sejak aku memutuskan pergi dari
rumah, memang ada beberapa yang terlewat. Misalnya koleksi sepeda kuno yang
diboyong Ayah dari rumah Eyang ini. Juga satu set meja-kursi kayu tempat minum
teh milik simbah yang digotong pindah ke teras depan. Semua item itu benar-benar
tampak jadul. Beruntung sih Ayah batal membeli gerbang bekas keraton yang
gedhe-nya naudzubillah. Ratusan juta untuk sebuah gerbang? Aku yang akan marah
-_-a
Berikut beberapa komentar yang
masuk ke kupingku:
“Rumahmu kayak rumah dukun. Pake
payung segala sih di depan kamar adekmu.”
“Ayahmu tinggi besar ya?” | “Ha?
Enggak. Beliau hitam dan pendek.” | “Rumahmu tinggi banget. Kupikir Ayahmu
kayak gitu.” | -_-a
“Rumahmu tingkat dua lantai?” | “Nggak
kok. Itu langit-langitnya emang dibuat tinggi.”
“Rumahmu klasik deh. Tembok bata.
Aku suka.”
![]() |
bagian depan rumah....bunga apa itu? Gak tau :D |
“Rumahmu kelihatan asri banyak
tanaman gitu.” | “Kemasukan ular sawah juga.”
![]() |
bougenville di bawah jendela kamarku |
Suatu ketika rumahku didatangi
wartawan media lokal dan aku ngakak-ngakak membaca artikelnya. Ayahku mencoba
membahasakan membangun rumah dari barang bekas. Rumahku masuk koran karena
unik. Aku jadi kepikiran, jangan-jangan ‘penghuni tambahan’ di kamar baju di
pojokan rumah itu bawaan dari ‘barang bekas’ bangunan Belanda yang Ayah beli.
Ngiiiik.....aku sudah terlalu banyak bercerita....waktunya kembali bekerja. See
yaa......
Dedicated for myBeloved Dad. Thx
untuk suara gemericik airnya yang membuatku tambah malas untuk bangun tidur :p
Jadi pengen sowan
BalasHapus